Kandang Kelompok

Kandang Kelompok ”Model Grati” merupakan model perkandangan yang dirancang dengan memperhatikan dalam satu ruang kandang ditempatkan beberapa ekor sapi induk/calon induk.

Ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Badan Litbang Pertanian)

Bobot badan : 1.200 -1.600 gram, Bobot telur : 35-45 gram, Umur pertama bertelur lebih awal (20 - 22 minggu),Produktivitas telur lebih tinggi (130 -160 butir/ekor/tahun, Produksi telur (henday) : 50 %, Puncak produksi telur : 65 %,Lebih tahan terhadap penyakit

Jumat, Maret 24, 2017

Asam Humat Sebagai Bahan Imbuhan Pakan Ayam Pedaging


Asam humat adalah salah satu senyawa yang terkandung dalam “humate substance”, dan merupakan hasil dekomposisi bahan organik, utamanya bahan nabati, yang terdapat dalam batubara muda (leonardite), gambut, kompos atau humus. Pemberian asam humat pada air minum dapat mempengaruhi pertambahan bobot hidup maupun FCR pada ayam pedaging.
Potensi humat di Indonesia cukup tinggi dikarenakan sumber asam humat yang berasal dari lahan gambut dan batubara muda cukup tinggi. Areal lahan gambut dan batubara muda tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Jawa (khususnya daerah rawa Pening, Jawa Tengah). Selain sumber tersebut di atas, asam humat dapat pula diperoleh dari kompos sudah matang yang tersedia di hampir semua lokasi pertanian.
Asam humat mengandung gugus anion maupun kation “exchange site”, antara lain untuk ion-ion Ca, Na, Al dan Fe, sehingga secara kimia bersifat sangat reaktif sebagai  “chelator”. Ekstraksi dilakukan dengan natrium hidroksida yang lebih dikenal dengan metode Kreulen.
Prosedur pembuatan asam humat:


Bobot hidup ayam yang diberi tambahan asam humat
Perlakuan
Asam Humat (mg 1-1)
Kontrol
100
200
300
0-3 minggu
780
797
796
788
3-5 minggu
1059
1085
1085
1086
0-5 minggu
1839b
1882a
1839
1839a
Feed Convertion Ratio (FCR)
Perlakuan
Asam Humat (mg 1-1)
Kontrol
100
200
300
0-3 minggu
1,36
1,36
1,36
1,34
3-5 minggu
1,89a
1,79b
1,85ab
1,77b
0-5 minggu
1,66a
1,61b
1,64ab
1,59b
Presentase karkas ayam umur 5 minggu
Perlakuan
Asam Humat (mg 1-1)
Rataan
Kontrol
100
200
300
Jantan
65,61 + 1,90
67,79 + 2,96
67,19 + 1,50
68,85 + 2,43
67,61 + 2,44
Betina
66,64 + 1,61
65,34 + 2,41
68,07 + 2,66
66,51 + 1,34
66,71 + 2,12
Rataan
66,28 + 1,78
67,06 + 3,11
67,63 + 2,06
67,68 + 2,21

Pemberian asam humat 100 mg/l, 200 mg/l dan 300 mg/l dalam air minum berperan sebagai bahan imbuhan pakan yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakan, laju pertumbuhan dan persentase karkas.

Puslitbangnak

Rabu, Juni 24, 2015

Ketersediaan Sumber Hijauan di Bawah Perkebunan Kelapa Sawit untuk Penggembalaan Sapi


Laju pertambahan kebun kelapa sawit di Indonesia sejak tahun  2008-2011 mencapai 6,92%, yaitu meningkat dari 7.363.703 menjadi 7.873.384 ha. Vegetasi yang tumbuh di area perkebunan kelapa sawit merupakan gulma bagi tanaman pokoknya.

Perkebunan kelapa sawit ini mempunyai peluang untuk usaha peternakan sistem integrasi kelapa sawit-sapi telah dikenal dan banyak diaplikasikan, melalui penggunaan limbah kebun kelapa sawit, limbah pengolahan sawit, pelepah sawit sebagai pakan ternak dan pupuk kandang sebagai pupuk tanaman kelapa sawit.

Pengelolaan kebun kelapa sawit termasuk padat modal, antara lain untuk perawatan tanaman, pengendalian gulma, pengadaan pupuk organik dan pupuk anorganik. Adanya penggembalaan sapi di perkebunan sawit, biaya pengelolaan kebun sawit dapat diminimalisir dan input produksi kelapa sawit dapat ditekan. Salah satu sistem integrasi kelapa sawit-sapi yang mempunyai prospek untuk dikembangkan adalah sistem penggembalaan dengan rotasi.

Jenis tumbuhan di bawah tanaman kelapa sawit antara lain rumput-rumputan dan tumbuhan berdaun sempit maupun berdaun lebar. Tumbuhan tersebut ada yang disukai ternak, ada yang tidak disukai atau beracun untuk ternak. Ketersediaan tumbuhan di bawah kelapa sawit bervariasi tergantung dari umur kelapa sawit.

Salah satu cara untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas hijauan di bawah kelapa sawit antara lain dengan introduksi tanaman pakan ternak (TPT) unggul di sela-sela tanaman kelapa sawit. Kapasitas tampung vegetasi di bawah perkebunan kelapa sawit bervariasi. Beberapa studi yang telah dilakukan melaporkan bahwa integrasi kelapa sawit-sapi dengan sistem grazing secara ekonomi feasible.

Puslitbangnak

Selasa, Juni 23, 2015

Karakteristik dan Manipulasi Mikrobia Rumen Hemat Emisi Gas Karbon dan Metan dalam Integrasi Sapi Sawit

Gas metan yang berasal dari total populasi ternak ruminansia yang ada di dunia telah menyumbang 12-15% dari total aliran gas metan di atmosphere.  Banyak faktor yang mempengaruhi emisi metana dan karbon dari ternak ruminansia. Diperlukan strategi memanipulasi pakan dan ekosistem rumen guna  mengurangi emisi gas metan asal ternak yang sekaligus dapat meningkatkan pertambahan bobot badan ternak. Tujuan Penelitian adalah : (1) Memperoleh karakteristik  Deoxyribose Nucleic Acid (DNA)  mikrobia rumen (bakteri, protozoa, jamur) pencerna    serat hemat emisi gas karbon dan  metan, (2) Mengidentifikasi kandungan emisi gas karbon dan metan  hasil ekshalasi, dan (3) Menentukan ransum sapi potong yang efisien berbasis kelapa sawit  rendah emisi gas karbon dan metan. Penelitian dilakukan dalam dua kegiatan penelitian yaitu:

Kegiatan 1, merupakan tahapan karakterisasi DNA mikrobia rumen (bakteri, protozoa dan jamur) penghasil gas karbon dan metan yang diisolasi dari rumen sapi (berfistula) yang mendapat 3 (tiga) macam perlakuan pemberian pakan, yaitu (a)= pakan serat tinggi (kandungan > 26% SK), (b)= pakan serat sedang (15-25% SK), dan (c)= pakan serat rendah (<14% SK). 

Kegiatan 2, merupakan percobaan in vivo. Sebanyak  24 ekor sapi jantan (umur 11-I2) dimasukkan ke dalam kandang individu dan dibagi ke dalam 3 (tiga) kelompok pemberian pakan, yakni (A)= ransum serat tinggi (kandungan > 26% SK), (B) =ransum serat sedang (15-25% SK), dan (C) = ransum serat rendah (<14% SK). Lokasi percobaan di PTPN VI, Kab Batanghari (Jambi) dan di Kab. Kotawaringin Barat (Kalimantan Tengah). Parameter yang diukur: konsumsi dan konversi pakan, ekosistem rumen (VFA, pH, dan NH3 rumen), pertambahan bobot badan.

Luaran dalam tahapan ini adalah formulasi ransum hemat emisi gas karbon dan metan pada pakan berbasis kelapa sawit. Data yang diperoleh dalam kegiatan 1 dan 2, dianalisis menggunakan rancangan acak lengkap pola searah (One Way Analysis) menggunakan program SPSS ver. 20. 

Hasil kegiatan 1, Evaluasi karakteristik DNA mikrobia rumen masih dilanjutkan pada TA 2014. Bakteri pada sapi fistula umumnya berbentuk cocci in pairs (gram+), cocci in clusters (gram+), dan rod with round ends (+/-). Sedangkan strain protozoa didominasi oleh Epipinium ecaudatum, Eremoplastron bovis, Eremoplastron bugalus, dan Entodinium quadriseuspis. Pada pakan serat berbasis non sawit, pakan berserat rendah menghasilkan kandungan CH4 (10,87 ml) lebih rendah (P<0,05) dibanding pakan serat sedang (23,92 ml) dan serat tinggi (26,72 ml). Namun demikian kandungan NNH3 pada pakan serat rendah (430,65 mg/L) lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan pakan serat sedang (259,32 mg/L) dan serat tinggi (305,56 mg/L). Rataan populasi bakteri pada pakan  serat sedang (13,82x109/ml) lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan pakan serat rendah (9,11 x 109/ml) dan serat tinggi (4,71x109/ml). Hasil yang sama ditunjukkan pada populasi protozoa bahwa protozoa pada pakan serat sedang (40,52x106/ml)  lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan pakan serat rendah (19,83 x 106) dan serat tinggi (15,67x106 ml). Menggunakan persamaan regresi persamaan Y = 0,034 X – 3,828, diprediksikan bahwa produksi gas metan pada kandungan SK tinggi berkisar 231,4 – 439,2 gram/hr, produksi gas metan pada kandungan SK sedang berkisar 247,0 – 404,0 gram/hr, sedangkan produksi gas metan pada kandungan SK rendah berkisar 171,4 – 366,7 gram/hr. 

Hasil Kegiatan 2
, menunjukkan bahwa pakan serat tinggi  mempunyai populasi protozoa (6,98 x 106/ml) tertinggi  (P<0,05) dibandingkan pakan serat rendah (5,24 x106/ml) dan serat sedang (4,12 x106/ml) Sedangkan populasi bakteri pakan serat sedang (8,14 x 109/ml) adalah tertinggi diikuti pakan serat tinggi (6,97 x 109/ml) dan serat rendah (6,25 x 109/ml).  Pakan serat tinggi dan serat sedang menghasilkan kandungan CH4 yang sama (22,18 ml vs 21, 84 ml), namun lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan pakan serat rendah (12,41 ml). Sebaliknya, pakan berserat rendah dan sedang menghasilkan kandungan NNH3 (151,95 mg/L dan 146,18 mg/L) yang lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan pakan serat tinggi (93,41 mg/L). Sedangkan pH rumen masing-masing perlakuan tidak berbeda nyata, berkisar 6,70-6,83. Konsumsi bahan kering ransum masing-masing perlakuan tidak terdapat perbedaan signifikan, yakni berkisar 8,23 – 9,08 kg/hr. Namun demikian kecernaan bahan kering pada pakan serat tinggi (35,89%) adalah lebih rendah (P<0,05) dibandingkan dengan kecernaan bahan kering pada pakan serat sedang (44,28%) dan serat rendah (44,13%). Pertambahan bobot badan pada pakan serat rendah (1,19 kg/hr) adalah tertinggi (P<0,01), diikuti pakan serat sedang (0,75 kg/hr) dan pakan serat tinggi (0,17 kg/hr). Sedangkan konversi pakan tidak menunjukkan perbedaan karena menghasilkan variasi yang cukup besar, yakni berkisar 7,77 – 34,00.

Kesimpulan yang dihasilkan dari dua kegiatan ini adalah: (1) kandungan serat kasar yang tinggi dalam pakan menghasilkan emisi metan yang lebih tinggi,  diikuti dengan tingginya populasi protozoa dan kandungan ammonia nitrogen dalam rumen yang rendah; (2) kandungan serat kasar yang rendah dalam bahan pakan mampu menurunkan kandungan metan, meningkatkan bobot badan ternak serta meningkatkan efisiensi penggunaan ransum; (3) emisi gas metan pada pakan berserat berbasis sawit dan non sawit tidak menunjukkan perbedaan, namun populasi bakteri dan protozoa rumen pada pakan berbasis sawit adalah lebih rendah.

Puslitbangnak

Senin, Juni 22, 2015

Penggunaan daun dan pelepah sawit difermentasi dengan ragi tempe Trichoderma viride dan Rhizopus oligosporus untuk pakan kambing



Tanaman kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang memiliki multi guna, selain terkenal sebagai sumber minyak (Palm Oil Crude), hampir seluruh bagian tanaman sawit dapat memberi manfaat bagi industri Limbah perkebunan sawit berupa daun dan pelepah sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak ruminansia seperti sapi, kerbau. kambing dan domba. sampai dengan menjadi bahan pakan ternak. Pelepah sawit yang baru di potong dalam bentuk segar dapat diberikan sebagai pakan kambing, setelah lebih dahulu di olah dengan mencacah menjadi bentuk pendek atau digiling dengan mesin menjadi bentuk abon, walaupun setelah diberikan masih kurang disukai kambing karena aromanya kurang disukai.
Salah satu metode agar limbah daun dan pelepah sawit disukai kambing adalah melalui fermentasi dengan mikroba ragi “Trichoderma viride dan Rhizopus oligosporus” . Kandungan protein daun dan pelepah sawit yang relatif rendah 5,3%) setelah terfermentasi selama 14 hari, protein meningkat menjadi 8,85%, bentuk fisik menjadi lembut dan aromanya menjadi wangi dan disukai oleh kambing.
Mikroba dapat diperbanyak melalui inokulum dengan cara memasukan dua liter biakan inokulum kedalam larutan air campuran bioreaktor, 3 kg gula pasir, 2 kg tepung beras, 2 kg ragi tempe, 1 kg urea, 1 kg KCl dan 1 kg SP-36. Biakan dalam bioreaktor dilakukan aerasi dan pengadukan selama tujuh hari. Setelah tujuh hari, larutan mikroba siap digunakan untuk fermentasi daun dan pelepah kelapa sawit .
20 ekor kambing boerka jantan sedang tumbuh dengan bobot hidup rata-rata 13 kg setelah mengkonsumsi daun dan pelepah sawit fermentasi selama 12 minggu menunjukan pengaruh yang cukup baik terhadap pertambahan bobot akhir kambing rata- rata 4,3 kg selama 12 minggu, atau dengan bobot akhir rata-rata 17,5 kilogram.
Sebagai kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa daun dan pelepah sawit yang difermentasi dapat digunakan sampai tingkat 30 persen sebagai pengganti (substitusi) rumput, selain itu juga dapat meningkatkan efisiensi ekonomis dengan menurunkan biaya pakan sebesar 18 sampai 36,17% selama 12 minggu dibanding pakan daun dan pelepah segar tanpa fermentasi.

Puslitbangnak

Jumat, Juni 19, 2015

Penyerentakan berahi menggunakan hormon progresteron efektif tingkatkan reproduksi ternak domba/kambing

Kambing PE (Peternakan Etawa) merupakan ternak kambing tipe dwiguna yaitu kambing yang menghasilkan daging dan susu. Produksi susu kambing PE relatif masih rendah dengan tingkat keragaman tinggi: 1 - 3,5 liter/hari dengan rataan 1,1 liter/hari. Upaya untuk meningkatkan produksi susu kambing PE maka perlu dilakukan penelitian, salah satunya adalah dengan menyilangkan atau mengawinkan dengan kambing tipe perah lainya seperti kambing Anglo Nubian yang umumnya berasal dari daerah sub tropis agar menghasilkan produksi susu seperti yang diharapkan untuk meningkatkan status gizi masyarakat di pedesaan melalui konsumsi susu kambing.
Untuk mempercepat dalam menghasilkan anak dan memproduksi susu ternak kambing perlu diserentakan berahi dan diatur perkawinannya.  Pada prinsipnya penyerentakan berahi adalah memanipulasi proses reproduksi ternak hingga mengalami peristiwa berahi secara bersamaan.  Penghentian perlakuan progestagen secara mendadak mengakibatkan folikel tumbuh berkembang dan produksi estrogen meningkat sehingga ternak menunjukkan tanda-tanda berahi.
Pemberian progesteron secara intravaginal banyak dilakukan, sedangkan penyuntikan hormon akan lebih efisien dalam hal waktu dan tenaga.  Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penyerentakan berahi menggunakan hormon progresteron sangat efektif meningkatkan efisiensi reproduksi ternak domba/kambing.

Puslitbangnak

Kamis, Juni 18, 2015

Pemanfaatan produk wafer sebagai sumber pakan ternak kambing



Produk wafer ini diolah dari bahan baku menggunakan leguminosa pohon Indigofera sp sebagai sumber protein dan dicampur dengan pelepah sawit sebagai sumber energi dan serat, serta molases sebagai media energi fermentasi. Produk pakan wafer yang disediakan sesuai dengan formulasi pakan yang sudah ditentukan. Produk pakan wafer ini diberikan kepada ternak kambing boerka jantan sedang tumbuh sebanyak 20 ekor selama 12 minggu. Hasilnya menunjukan bahwa semakin tinggi level Indigofera pada susunan pakan maka produk wafernya akan semakin meningkat kandungan proteinnya, karena Indigofera merupakan bahan baku yang memiliki kandungan protein tinggi (27%), sebaliknya semakin meningkat level pelepah sawit pada susunan pakan maka produk wafer akan semakin rendah proteinnya tetapi semakin tinggi kandungan seratnya, karena pelepah sawit diketahui mengandung serat kasar yang tinggi.
Konsumsi pakan semakin menurun dengan semakin meningkatnya pelepah sawit yang diberikan kepada kambing. Konsumsi pelepah dalam wafer tertinggi sebesar 362,30 g/ekor/hari, atau dengan kandungan serat pelepah sawit pada sebesar 45%, pada tingkat ini menunjukkan kebutuhan serat sudah mencapai ambang batas. Proses pencernaan serat pelepah sawit membutukan waktu yang cukup lama untuk dicerna oleh microorganisme dalam pencernaan ternak kambing, sehingga penggunaan serat pelapah diatas 45% akan menurunkan kecernaan dan konsumsi. Disarankan untuk penggunaan pelepah sawit dalam jumlah yang cukup tinggi sebelum diberikan kepada ternak diperlukan proses fermentasi, agar komponen serat dapat lebih mudah dicernakan oleh ternak. Sebaliknya penggunaan indigofera dalam bentuk halus (setelah digiling) dalam wafer menunjukkan peningkatan konsumsi yang lebih baik dibanding bila diberikan dalam bentuk normal tanpa pengolahan.

Puslitbangnak