Sebanyak 240 ekor anak ayam broiler unsex strain Arbor Acress umur 1 hari (DOC) diberi makan secara Adlibitum selama 8 minggu. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan sidik ragam (analysis of variance/ANOVA) dan jika menunjukkan pengaruh yang nyata dilanjutkan dengan Uji Kontras Ortogonal. Peubah yang diamati adalah performan dan kualitas karkas (kolesterol karkas) ayam broiler. Hasil di lapangan menunjukkan bahwa: Penampilan produksi ayam broiler terutama pada konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, dan persentase karkas tidak dipengaruhi oleh pemakaian tepung daun mengkudu olahan dalam ransum broiler, akan tetapi dapat menurunkan kandungan kolesterol karkas sebanyak 26,18% dari 73,06 mg/100g menjadi 53,76 mg/100g. Dari semua level penggunaan produk tepung daun mengkudu fermentasi yang diberikan dalam ransum, level pemberian 21% nyata menurunkan kandungan kolesterol karkas ayam broiler.
Selasa, Agustus 20, 2013
Daun mengkudu fermentasi turunkan kandungan kolesterol karkas Ayam Broiler
Sebanyak 240 ekor anak ayam broiler unsex strain Arbor Acress umur 1 hari (DOC) diberi makan secara Adlibitum selama 8 minggu. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan sidik ragam (analysis of variance/ANOVA) dan jika menunjukkan pengaruh yang nyata dilanjutkan dengan Uji Kontras Ortogonal. Peubah yang diamati adalah performan dan kualitas karkas (kolesterol karkas) ayam broiler. Hasil di lapangan menunjukkan bahwa: Penampilan produksi ayam broiler terutama pada konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, dan persentase karkas tidak dipengaruhi oleh pemakaian tepung daun mengkudu olahan dalam ransum broiler, akan tetapi dapat menurunkan kandungan kolesterol karkas sebanyak 26,18% dari 73,06 mg/100g menjadi 53,76 mg/100g. Dari semua level penggunaan produk tepung daun mengkudu fermentasi yang diberikan dalam ransum, level pemberian 21% nyata menurunkan kandungan kolesterol karkas ayam broiler.
Senin, Agustus 19, 2013
Ternyata lebih efisien dibanding Australia
PANGKALAN BUN, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) melakukan penelitian program integrasi sawit-sapi di Kobar selama tiga hari. Prof Dr Kusuma Diwyantosebagai peneliti utama melihat program tersebut bisa menjadi percontohan skala nasional.
Program integrasi sawit-sapi di Kobar menarik perhatian Puslitbang Peternakan. Selama tiga hari, peneliti berada di Kobar untuk mengeksplorasi program yang dijalankan Kelompok Tani Subur Makmur Desa Pangkalan Tiga ini.
Kusuma Diwyanto mengatakan, ada dua tempat yang diteliti, yakni di Sulung Ranch dan di Kelompok Tani Subur Makmur. Ia melihat kombinasi yang dilakukan dalam integrasi sawit-sapi ini termasuk sangat bagus, baik itu dari sisi kesejahteraan masyarakat, produktifitas perkebunan, maupun usaha sapinya itu sendiri.
Yang menarik, kata Kusuma, ada aliran pakan dari pabrik kelapa sawit yang menjadi bahan utama pakan sapi untuk Kelompok Tani Subur Makmur. Lalu, kotoran sapi diolah menjadi kompos yang nilainya jauh lebih tinggi dari biaya pakan. ”Ini kalau kita hitung, lebih efesien dari pada Australia,” ungkap Kusuma di sela-sela kepulangannya melalui Bandara Iskandar Pangkalan Bun kemarin.
Jika pola integrasi sawit sapi yang dilakukan Kelompok Tani Subur Makmur diterapkan secara masif, Kobar bukan hanya bisa swasembada daging, tetapi bisa menjadi eksportir sapi. Sebab, biaya untuk memproduksi pakan sapi untuk pembibitan atau perkembangbiakan itu kurang dari Rp 2 ribu perhari. Apalagi setiap satu tahun sapi bisa beranak. Jadi biaya pakan untuk menghasilkan satu ekor pedet (anak sapi) itu hanya Rp 1,6 juta, sementara kalau di Lampung biayanya untuk menghasilkan satu ekor pedet butuh Rp 9 juta.
Program integrasi sawit-sapi di Kobar menarik perhatian Puslitbang Peternakan. Selama tiga hari, peneliti berada di Kobar untuk mengeksplorasi program yang dijalankan Kelompok Tani Subur Makmur Desa Pangkalan Tiga ini.
Kusuma Diwyanto mengatakan, ada dua tempat yang diteliti, yakni di Sulung Ranch dan di Kelompok Tani Subur Makmur. Ia melihat kombinasi yang dilakukan dalam integrasi sawit-sapi ini termasuk sangat bagus, baik itu dari sisi kesejahteraan masyarakat, produktifitas perkebunan, maupun usaha sapinya itu sendiri.
Jika pola integrasi sawit sapi yang dilakukan Kelompok Tani Subur Makmur diterapkan secara masif, Kobar bukan hanya bisa swasembada daging, tetapi bisa menjadi eksportir sapi. Sebab, biaya untuk memproduksi pakan sapi untuk pembibitan atau perkembangbiakan itu kurang dari Rp 2 ribu perhari. Apalagi setiap satu tahun sapi bisa beranak. Jadi biaya pakan untuk menghasilkan satu ekor pedet (anak sapi) itu hanya Rp 1,6 juta, sementara kalau di Lampung biayanya untuk menghasilkan satu ekor pedet butuh Rp 9 juta.
Kamis, Agustus 15, 2013
Berita
Informasi Teknologi
Rabu, Agustus 14, 2013
Publikasi Terbaru
Kamis, Juli 25, 2013
Mutiara Ramadhan: Menggapai tingkatan puasa paling tinggi dan sempurna
Imam Abu Hamid al-Ghazali (wafat tahun 505 H) dalam kitabnya Ihya’ Ulum ad-Din menguraikan dengan jelas dan bagus rahasia-rahasia puasa yang bersifat batiniah, yang akan mengantarkan orang yang berpuasa menuju tingkatan puasa yang paling tinggi dan sempurna.
Ulama besar madzhab Syafi’i dan rektor Universitas Nizhamiyah kota Naisabur itu berkata:
Beliau kemudian menguraikan masing-masing tingkatan tersebut.
Maksudnya, puasa umum atau puasa orang-orang awam adalah “sekedar” mengerjakan puasa menurut tata cara yang diatur dalam hukum fiqih. Seseorang makan sahur dan berniat untuk puasa pada hari itu, lalu menahan diri dari makan, minum dan melakukan hubungan badan dengan suami atau istrinya sejak dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Jika hal itu telah dikerjakan, maka secara hukum fiqih ia telah mengerjakan kewajiban shaum Ramadhan. Puasanya telah sah secara lahiriah menurut tinjauan ilmu fikih.
Tingkatan ini lebih tinggi dari tingkatan puasa umum atau puasa orang-orang awam. Selain menahan diri dari makan, minum dan melakukan hubungan seksual, tingkatan ini menuntut orang yang berpuasa untuk menahan seluruh anggota badannya dari dosa-dosa, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Tingkatan ini menuntut seorang muslim untuk senantiasa berhati-hati dan waspada.
Ia akan menahan matanya dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia akan menahan telinganya dari mendengarkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia akan menahan lisannya dari mengucapkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia akan menahan tangannya dari melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia akan menahan kakinya dari melangkah menuju hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan seluruh anggota badannya yang lain ia jaga agar tidak terjatuh dalam tindakan maksiat.
Tingkatan puasa ini adalah tingkatan orang-orang shalih.
Ulama besar madzhab Syafi’i dan rektor Universitas Nizhamiyah kota Naisabur itu berkata:
اعْلَمْ أَنَّ الصَّوْمَ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ: صَوْمُ الْعُمُومِ، وَصَوْمُ الْخُصُوصِ، وَصَوْمُ خُصُوصِ الْخُصُوصِ.
“Ketahuilah sesungguhnya shaum (puasa) itu ada tiga tingkatan; puasa umum, puasa khusus, dan puasa sangat khusus.” (Imam Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Dien, 1/234)Beliau kemudian menguraikan masing-masing tingkatan tersebut.
Pertama, Puasa umum
أَمَّا صَوْمُ الْعُمُومِ: فَهُوَ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قَضَاءِ الشَّهْوَةِ
“Puasa umum adalah menahan petur dan kemaluan dari menunaikan syahwat.”Maksudnya, puasa umum atau puasa orang-orang awam adalah “sekedar” mengerjakan puasa menurut tata cara yang diatur dalam hukum fiqih. Seseorang makan sahur dan berniat untuk puasa pada hari itu, lalu menahan diri dari makan, minum dan melakukan hubungan badan dengan suami atau istrinya sejak dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Jika hal itu telah dikerjakan, maka secara hukum fiqih ia telah mengerjakan kewajiban shaum Ramadhan. Puasanya telah sah secara lahiriah menurut tinjauan ilmu fikih.
Kedua, puasa khusus
وَأَمَّا صَوْمُ الْخُصُوصِ فَهُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ
“Puasa khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa.”Tingkatan ini lebih tinggi dari tingkatan puasa umum atau puasa orang-orang awam. Selain menahan diri dari makan, minum dan melakukan hubungan seksual, tingkatan ini menuntut orang yang berpuasa untuk menahan seluruh anggota badannya dari dosa-dosa, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Tingkatan ini menuntut seorang muslim untuk senantiasa berhati-hati dan waspada.
Ia akan menahan matanya dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia akan menahan telinganya dari mendengarkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia akan menahan lisannya dari mengucapkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia akan menahan tangannya dari melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia akan menahan kakinya dari melangkah menuju hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan seluruh anggota badannya yang lain ia jaga agar tidak terjatuh dalam tindakan maksiat.
Tingkatan puasa ini adalah tingkatan orang-orang shalih.





