Kandang Kelompok

Kandang Kelompok ”Model Grati” merupakan model perkandangan yang dirancang dengan memperhatikan dalam satu ruang kandang ditempatkan beberapa ekor sapi induk/calon induk.

Ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Badan Litbang Pertanian)

Bobot badan : 1.200 -1.600 gram, Bobot telur : 35-45 gram, Umur pertama bertelur lebih awal (20 - 22 minggu),Produktivitas telur lebih tinggi (130 -160 butir/ekor/tahun, Produksi telur (henday) : 50 %, Puncak produksi telur : 65 %,Lebih tahan terhadap penyakit

Selasa, Agustus 20, 2013

Kinerja investasi pembibitan menuju kemandirian usaha unggas lokal


Produk ayam dan itik lokal merupakan salah satu prioritas sumber pasokan daging yang 'emerging' dapat diandalkan setelah upaya pencapaian swasembada daging sapi tahun 2014. Di sisi lain, perkembangan permintaan daging ayam dan itik lokal diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan upaya pemenuhan kebutuhan daging bagi masyarakat.
Sudah saatnya perlu untuk dikembangkan usaha pembibitan ayam dan itik lokal secara massive untuk menjamin kecukupan produksi bibit day old chick (DOC) dan day old duck (DOD) sesuai dengan permintaan pelaku usaha. Saat ini, sangat sedikit atau hampir tidak ada perusahaan swasta yang bergerak di bidang pembibitan ayam dan itik lokal secara komersial. Jika ada, skala usaha masih relatif kecil, sehingga jumlah DOC dan DOD yang dihasilkan belum mampu memenuhi permintaan pasar. Hal yang sama juga terjadi pada kelompok-kelompok peternak unggas lokal yang mengusahakan pembibitan, namun masih sangat beragam kualitas bibit yang dihasilkan dan distribusi pasar yang masih bersifat lokal maupun regional.
Sehubungan dengan hal tersebut Puslitbang Peternakan telah menyelenggarakan roundtable discussion yang bertemakan 'Kinerja Investasi Pembibitan Menuju Kemandirian Usaha Unggas Lokal'. Diskusi ini melibatkan para pakar, praktisi dan pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah serta stakeholder terkait di bidang usaha unggas lokal. Hasil-hasil diskusi tersebut dirangkum dalam booklet  agar dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak terkait dengan saran dan rekomendasi tindak lanjutnya yang perlu dilakukan oleh berbagai pihak.
Informasi lebih lanjut......

Daun mengkudu fermentasi turunkan kandungan kolesterol karkas Ayam Broiler

Daging ayam merupakan produk peternakan yang bergizi tinggi. Namun, karena daging ini kaya lemak dan kolesterol, dicurigai sebagai salah satu penyebab serangan stroke dan penyakit jantung koroner pada manusia. Untuk mengevaluasi pengaruh taraf pemberian daun mengkudu fermentasi terhadap kadar kolesterol karkas ayam pedaging. Telah dilakukan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 8 (delapan) perlakuan dan 3 (tiga) ulangan dengan 10 (sepuluh) ekor ayam untuk setiap ulangan. Ransum yang mengandung tepung daun mengkudu fermentasi kaya β-karoten dicobakan pada ayam broiler dengan level: 0,3,6,9,12,15,18 dan 21%. Ransum disusun iso protein 22% dan iso energi 3000 kkal/kg.

Sebanyak 240 ekor anak ayam broiler unsex strain Arbor Acress umur 1 hari (DOC) diberi makan secara Adlibitum selama 8 minggu. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan sidik ragam (analysis of variance/ANOVA) dan jika menunjukkan pengaruh yang nyata dilanjutkan dengan Uji Kontras Ortogonal. Peubah yang diamati adalah performan dan kualitas karkas (kolesterol karkas) ayam broiler. Hasil di lapangan menunjukkan bahwa: Penampilan produksi ayam broiler terutama pada konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, dan persentase karkas tidak dipengaruhi oleh pemakaian tepung daun mengkudu olahan dalam ransum broiler, akan tetapi dapat menurunkan kandungan kolesterol karkas sebanyak 26,18% dari 73,06 mg/100g menjadi 53,76 mg/100g. Dari semua level penggunaan produk tepung daun mengkudu fermentasi yang diberikan dalam ransum, level pemberian 21% nyata menurunkan kandungan kolesterol karkas ayam broiler.

Senin, Agustus 19, 2013

Ternyata lebih efisien dibanding Australia

PANGKALAN BUN, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) melakukan penelitian program integrasi sawit-sapi di Kobar selama tiga hari. Prof Dr Kusuma Diwyantosebagai peneliti utama melihat program tersebut bisa menjadi percontohan skala nasional.
Program integrasi sawit-sapi di Kobar menarik perhatian Puslitbang Peternakan. Selama tiga hari, peneliti berada di Kobar untuk mengeksplorasi program yang dijalankan Kelompok Tani Subur Makmur Desa Pangkalan Tiga ini.
Kusuma Diwyanto mengatakan, ada dua tempat yang diteliti, yakni di Sulung Ranch dan di Kelompok Tani Subur Makmur. Ia melihat kombinasi yang dilakukan dalam integrasi sawit-sapi ini termasuk sangat bagus, baik itu dari sisi kesejahteraan masyarakat, produktifitas perkebunan, maupun usaha sapinya itu sendiri.

Yang menarik, kata Kusuma, ada aliran pakan dari pabrik kelapa sawit yang menjadi bahan utama pakan sapi untuk Kelompok Tani Subur Makmur. Lalu, kotoran sapi diolah menjadi kompos yang nilainya jauh lebih tinggi dari biaya pakan. ”Ini kalau kita hitung, lebih efesien dari pada Australia,” ungkap Kusuma di sela-sela kepulangannya melalui Bandara Iskandar Pangkalan Bun kemarin.
Jika pola integrasi sawit sapi yang dilakukan Kelompok Tani Subur Makmur diterapkan secara masif, Kobar bukan hanya bisa swasembada daging, tetapi bisa menjadi eksportir sapi. Sebab, biaya untuk memproduksi pakan sapi untuk pembibitan atau perkembangbiakan itu kurang dari Rp 2 ribu perhari. Apalagi setiap satu tahun sapi bisa beranak. Jadi biaya pakan untuk menghasilkan satu ekor pedet (anak sapi) itu hanya Rp 1,6 juta, sementara kalau di Lampung biayanya untuk menghasilkan satu ekor pedet butuh Rp 9 juta.