Kandang Kelompok

Kandang Kelompok ”Model Grati” merupakan model perkandangan yang dirancang dengan memperhatikan dalam satu ruang kandang ditempatkan beberapa ekor sapi induk/calon induk.

Ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Badan Litbang Pertanian)

Bobot badan : 1.200 -1.600 gram, Bobot telur : 35-45 gram, Umur pertama bertelur lebih awal (20 - 22 minggu),Produktivitas telur lebih tinggi (130 -160 butir/ekor/tahun, Produksi telur (henday) : 50 %, Puncak produksi telur : 65 %,Lebih tahan terhadap penyakit

Senin, September 02, 2013

Pembuatan silase pelepah kelapa sawit sebagai pakan ternak


Pelepah kelapa sawit bisa menggantikan rumput hingga 80% tanpa mengurangi laju pertumbuhan bobot ternak. Ada beberapa macam teknologi untuk menjadikan pelepah sawit sebagai pakan ternak.
Kandungan zat gizi ternak dari daun kelapa sawit cukup lumayan, antara lain mengandung protein kasar 14,8% ligin 27,6% dan kecernaan invitro kurang dari 50%. Daun sawit memiliki keambaan , daya serap air dan kelarutan yang lebih tinggi. Nilai keambaan yang tinggi merupakan karakteristik berserat tinggi.
Pelepah kelapa sawit dpat diberikan dalam bentuk segar atau diproses menjadi silase. Hasil Penelitian menunjukan penggunaan pelepah sawit dalam bentuk silase pada sapi sebanyak 50% dari total pakan dapat menghasilkan pertambahan bobot badan harian berkisar 0,62-0,75 kg dengan nilai konversi pakan antara 9 - 10.
Fermentasi pelepah kelapa sawit menjadi silase ditujukan preservasi dan konsentrat, pengaruhnya terhadap nilai gizi bahan relatif kecil, Adapun untuk meningkatkan kandungan gisi dalam proses fermentasi dapat ditambahkan urea. Penambahan urea sebanyak 3-6% akan meningkatkan kandungan protein bahan dari 5,6 menjadi 12,5 atau 20%.
Tahapan pembuatan silase dimulai dari melakukan pencacahan bahan menjadi partikel yang halus. Cacahan pelepah kelapa sawit tersebut dicampur dengan salahsatu bahan berikut ini: tepung kanji, tepung jagung, onggok atau molases sebanyak 3-5% dari berat bahan. Bahan mana yang dipilih untuk campurannya tergantung dari apakah bahan tersebut mudah didapat atau tidan dan tingkat harga ekonomisnya.
Selanjutnya tambahkan juga urea 3-6%, kemudian semua bahan dimasukan ke dalam drum. padatkan dan tutup rapat untuk mempertahankan kondisi tanpa udara (anerob) selama 2-3 minggu, baru bisa digunakan. Pada saat selase dibuka, kering anginkan terlebih dahulu baru diberikan kepada ternak. Silase dapat disimpan dalam waktu yang lama. bahkan bertahun-tahun tanpa mengalami penurunan nilai nutrisi.
sumber: Sinar Tani Edisi 21-27 Agustus 2013

Pameran dan Gelar Inovasi Teknologi Perkebunan, ENIP III 2013

Agribisnis perkebunan diprediksi akan semakin menarik pada tahun-tahun mendatang. Masuknya berbagai perusahaan nasional sebagai investor dan pelaku bisnis menjadi salah satu pendorong munculnya gairah usaha perkebunan ini. Di sisi lain, beberapa produk perkebunan Indonesia, seperti kakao, karet, kopi, lada, vanili, kopra, kelapa sawit, minyak atsiri, tembakau, dan jambu mete, diakui memiliki keunggulan komparatif di pasar Internasional, sehingga peluang produk Indonesia untuk masuk ke pasar internasional terbuka cukup lebar.
Badan Litbang Pertanian, sebagai penghasil inovasi teknologi maupun inovasi kebijakan, sangat menyadari bahwa pelaku usaha perkebunan, baik dalam kapasitasnya sebagai mitra pemerintah maupun dalam sebagai pihak yang menjalankan usahanya sendiri, memerlukan adanya inovasi dalam berusaha. Tujuannya tentu untuk meningkatkan keuntungan melalui peningkatan efisiensi dan efektivitas kinerja.
Terkait dengan hal itu, kegiatan penelitian di bidang perkebunan telah dilakukan dengan porsi perhatian yang cukup besar. Tidak hanya itu, teknologi yang dihasilkan juga diperderas penyampaiannya ke calon pengguna melalui berbagai “channel”, yang salah satunya melalui penyelenggaraan EXPO NASIONAL INOVASI PERKEBUNAN (ENIP) III 2013
Dari rangkaian kegiatan Pameran dan Gelar Inovasi Teknologi Perkebunan, ENIP III, di JCC, Jakarta tanggal 30 Agustus–1 September 2013.  Puslitbangnak menampilkan inovasi teknologi  Sistem Integrasi Ternak dengan Perkebunan yang merupakan suatu sistem usahatani tanaman – ternak yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia.

Jumat, Agustus 30, 2013

Cara efektif untuk menanggulangi penyakit utama pada ayam kampung


Ayam lokal, yang lebih dikenal dengan ayam kampung memiliki karakter yang unik dan tetap harus dipertahankan sebagai sumber plasma nutfah yang sangat berharga di negeri ini. Ayam kampung secara fisiologis dan genetik belum banyak dieksploitasi, sehingga potensi genetiknya masih terdistribusi secara proporsional bila dipandang dari konsep transformasi energi. Hal ini berarti kemampuan tumbuh dan produksinya terseleksi secara alamiah tanpa harus mengorbankan kemampuannya bertahan terhadap serangan penyakit.

Ayam kampung adalah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia dan hampir setiap rumah tangga memiliki ayam peliharaan berupa ayam kampung. Di pedesaan ayam kampung adalah tabungan hidup petani yang dalam waktu cepat dapat diuangkan dan digunakan untuk berbagai kepentingannya, sehingga dengan demikian posisi ayam kampung menjadi sangat strategis dalam mendukung ekonomi keluarga Indonesia, khususnya di pedesaan. Banyak keuntungan dan kelebihan yang bisa ditawarkan dari pemeliharaan ayam kampung, namun dengan merebaknya avian influenza (AI) keberadaan ayam kampung, khususnya yang dipelihara secara umbaran ada dalam kondisi dilematis. Pemerintah menyadari harus ada perlakuan khusus yang harus diberikan agar ayam kampung tetap berkembang dan tidak berperan sebagai reservoir dalam penyebaran AI yang potensial menular ke manusia.

Beberapa penyakit penting pada ayam kampung  yang secara ekonomis mempunyai dampak signifikan terhadap kesehatan ayam kampung dapat dikelompokkan berdasarkan agen penyebabnya:


  • Penyakit yang disebabkan oleh virus yang sering terjadi pada ayam kampung adalah: Newcastle Disease (ND) atau tetelo, Avian Influenza (AI) dan penyakit Gumboro/Infectious Bursal Disease(IBD). Ketiga penyakit ini sangat berpengaruh pada ayam kampung, khususnya pada ayam kampung yang dipelihara secara umbaran.
  • Penyakit unggas yang disebabkan oleh bakteri antara lain:Snot/coryza, Chronic Respiratory Disease(CRD), kolibasilosis dan cholera. Penyakit parasit yang harus diwaspadai adalah: cacing gelang, cacing pita, dan koksidiosis.
  • Penyakit non-infeksius seperti stres akibat panas, kepadatan, mishandling masih dijumpai.

Penanggulangan penyakit-tersebut dapat ditanggulangi melalui pemberian asupan nutrisi yang seimbang dan memadai, penerapan biosekuriti yang ketat, vaksinasi dan pengobatan. Pelaksanaan vaksinasi dan cakupan vaksinasi yang kurang tepat, titer antibodi yang tidak memadai dan status ketahanan individu hewan terhadap endemis suatu penyakit (misalnya AI, ND,Gumboro atau penyakit lain) dapat menyebabkan manifestasi subklinik penyakit yang bersangkutan.

Secara umum penerapan biosekuriti dan vaksinasi masih dipandang sebagai cara yang efektif untuk menanggulangi penyakit utama yang sering terjadi pada ayam kampung.
Sumber: Prosiding Workshop Nasional Unggas Lokal 2012

Suplementasi hijauan murbei dapat meningkatkan produktivitas domba dan kambing

Protein merupakan salah satu nutrient yang menjadi faktor penentu tingkat produktivitas ternak termasuk kambing dan domba. Namun pada umumnya bahan pakan sumber protein yang berasal dari kacang-kacangan maupun hasil samping industri pertanian harganya mahal sehingga terkadang tidak terjangkau oleh daya beli peternak skala kecil maupun yang berada di pedesaan.

Dilain pihak ternak ruminansia mempunyai kelebihan dibandingkan dengan ternak non ruminansia dalam hal pemanfaatan sumber protein dari hijauan untuk mencukupi kebutuhan akan proteinnya. Oleh karena itu, meningkatkan produktivitas domba dan kambing, perlu dicari alternative sumber protein yang murah dan tersedia sepanjang tahun. Tanaman murbei dapat tumbuh sepanjang tahun di daerah iklim tropis seperti di Indonesia.

Hijauan dari tanaman murbei mempunyai kandungan protein yan tinggi (> 20%) sehingga sangat potensial untuk digunakan sebagai sumber protein hijauan pada pakan kambing dan domba. Dilaporkan bahwa suplementasi hijauan murbei pada pakan domba dapat meningkatkan total konsumsi bahan kering sebesar 22,5% dan dibarengi dengan peningkatan kenaikan bobot badan harian domba sebesar 85% dibandingkan pakan yang tidak disuplementasi dengan hijauan murbei.
sumber: WARTAZOA Vol.22 No.1 Th.2012

Kamis, Agustus 29, 2013

Itik PMp, Alternatif Penyedia Daging dan Telur Unggas

Permintaan terhadap daging itik yang terus meningkat selama ini menunjukkan makin terbukanya pasar daging itik di Indonesia, sebagai alternatif daging unggas dalam menyediakan protein hewani murah bagi masyarakat.

Perubahan kondisi ini perlu ditanggapi dengan baik oleh sistem produksi yang ada, yang selama ini lebih didominasi untuk produksi telur itik. Sumber daging itik yang ada umumnya berasal dari itik tipe petelur dengan ukuran karkas kecil, yaitu itik jantan muda yang digemukkan atau itik betina petelur setelah selesai masa bertelurnya, untuk konsumen kelas menengah ke bawah.

Itik PMp merupakan bibit itik tipe pedaging baru yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor. Itik ini merupakan hasil persilangan antara itik Peking dan itik Mojosari putih. Itik PMp berbulu putih, warna kulit karkas bersih dan cerah.

Keunggulan Itik PMp dapat digunakan sebagai itik pedaging dan itik petelur. Bobot itik PMp sekitar 2-2,5 kg pada umur 10 minggu. Jika dikawinkan dengan entog jantan menghasilkan itik serati dengan bobot badan lebih dari 3 kg pada umur 10 minggu. Sebagai itik petelur, umur bertelur pertama 5,5 – 6 bulan. Nilai konversi pakan bagi itik PMp adalah 2,7 – 2,9 (umur 1-3 minggu) dan 3,9 – 4,7 (umur 4-10 minggu).

Kehadiran itik PMp ini dapat sebagai alternatif bagi peternak sebagai penyediaan daging dan telur unggas, selain ayam dan potensial dikembangkan oleh penangkar bibit unggas. Selain itu, dalam upaya memenuhi kebutuhan daging itik, adanya itik PMp ini juga merupakan substitusi daging itik impor.
Sumber: Balai Penelitian Ternak (Balitnak)

Rabu, Agustus 28, 2013

Mengenal beberapa penyakit penting pada Kelinci di Indonesia


Ternak kelinci merupakan salah satu aset petani yang sangat berharga. Di samping sebagai tabungan, kelinci juga sebagai penghasil daging yang tinggi kandungan protein dan rendah kolesterol dan trigeliserida dan dapat dibuat dalam bentuk produk olahan, seperti abon, dendeng, sosis, burger, dan bentuk cepat saji seperti sate. Selain itu sebagai penghasil kulit bulu (fur), juga menghasilkan wool, sebagai hewan coba dalam dunia kedokteran dan farmasi, menjadi idola atau kelinci kesayangan dengan harga jual relatif tinggi, kotoran dan urine sebagai pupuk organik yang bermutu tinggi untuk tanaman sayuran dan bunga.
Berbagai jenis ternak kelinci yang sudah dikembangkan di Indonesia seperti Lops, Fuzzy, Tan, Jersey Wooly, New Zealand White, Netherland Dwarf, Yamamoto, Silver Fox, Dwarf Hotot, Rex, Satin, Angora, Tris Mini Rex. Kelinci mampu melahirkan 10–11 kali per tahun dengan rataan 6–7 anak per kelahiran oleh sebab itu kelinci mudah berkembang biak dan tumbuh dengan cepat.

Salah satu kendala dalam Budidaya Kelinci yaitu penyakit. Penyakit yang menyerang kelinci di Indonesia yaitu Kudis, Koksidiosis, Pasteurellosis, Mukoid Enteritis, Penyakit Tyzzer, Sifilis, Ring worm, Kecacingan, Mastitis, Radang mata. Keberadaan penyakit eksotik perlu diwaspadai mengingat lebih banyak beternak kelinci impor daripada kelinci lokal.

Kudis disebabkan Sarcoptes scabiei perlu perhatian khusus karena menular ke manusia, seperti Pasteurellosis. Penyakit Koksidiosis, Mukoid Enteritis dan Penyakit Tyzzer sangat mudah menyebar ke koloni kelinci.

Informasi  selengkapnya:  Mengenai diagnosis, gejala klinis, isolasi ternak sakit dan pengobatannya
Sumber: Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005