Kandang Kelompok

Kandang Kelompok ”Model Grati” merupakan model perkandangan yang dirancang dengan memperhatikan dalam satu ruang kandang ditempatkan beberapa ekor sapi induk/calon induk.

Ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Badan Litbang Pertanian)

Bobot badan : 1.200 -1.600 gram, Bobot telur : 35-45 gram, Umur pertama bertelur lebih awal (20 - 22 minggu),Produktivitas telur lebih tinggi (130 -160 butir/ekor/tahun, Produksi telur (henday) : 50 %, Puncak produksi telur : 65 %,Lebih tahan terhadap penyakit

Senin, September 02, 2013

Murahnya ternak sapi dengan pakan pelepah kelapa sawit

Dengan harga pakan yang relatif lebih murah di perkebunan sawit in, mestinya PTPN VI ini bisa ikut membantu operasi pasar dengan harga Rp 32 ribu/bobot hidup.  Harga ini sebenarnya masih sangat masuk di PTPN (VI) ini. Oleh karena itu, saya berharap budidaya sapi integrasi dengan kelapa sawit seperti ini bisa juga membantu menurunkan harga daging sapi di Jambi yang masih tinggi, masih Rp 100 ribu. Jadi, dengan adanya peternakan di sini, lalu kemudian nanti dari Lampung, sapi-sapi yang siap potong, mudah-mudahan tidak lama lagi bisa diturunkan harga," jelas Menteri Pertanian, Suswono saat berkunjung ke Propinsi Jambi untuk memantau harga daging sapi pada Lebaran Idul Fitri lalu.


Manajemen PTPN VI di Muhajirin, Kabupaten Muaro Jambi menjelaskan bahwa proses pemeliharaan sapi di perusahaannya menggunakan pelepah kelapa sawit sebagai pakan utamanya. Pelepah kelapa sawit itu terlebih dahulu dilebur dengan menggunakan mesin penghancur pelepah kelapa sawit.

Sistem integrasi sawit-sapi yang dilakukan oleh PTPN VI jelas Suswono menerapkan sistem kandang koloni. "Sapi tidak dilepas, sapi relatif tidak banyak bergerak jadi ada percepatan dalam penggemukan. Pelepah dan bungkil sawit adalah bahan baku yang relatif sangat murah. Peningkatan bobot hidupnya bisa mencapai 1 kg per hari untuk sapi ongol. Saya kira ini normal dan bagus," jelas Suswono.

Dengan biaya budidaya sistem integrasi kelapa sawit-sapi ini Mentan yakin harga daging sapi di Jambi bisa lebih rendah. "Kalau kita lihat harga di pasar ternak, harga di angka 32 sampai 35, katakanlah ambil rata-rata 32, maka sebetulnya harga daging sapi Rp 80 sampai Rp 85 ribu itu masih masuk sekali di Jambi ini, di sini ada pedagang yang mengambil keuntungannya agak tinggi. Jadi saya berharap, harga daging sapi bisa Rp 83 ribu karena harga sapi hidupnya tidak terlalu tinggi, masih cukup," jelas Suswono.

Pembuatan silase pelepah kelapa sawit sebagai pakan ternak


Pelepah kelapa sawit bisa menggantikan rumput hingga 80% tanpa mengurangi laju pertumbuhan bobot ternak. Ada beberapa macam teknologi untuk menjadikan pelepah sawit sebagai pakan ternak.
Kandungan zat gizi ternak dari daun kelapa sawit cukup lumayan, antara lain mengandung protein kasar 14,8% ligin 27,6% dan kecernaan invitro kurang dari 50%. Daun sawit memiliki keambaan , daya serap air dan kelarutan yang lebih tinggi. Nilai keambaan yang tinggi merupakan karakteristik berserat tinggi.
Pelepah kelapa sawit dpat diberikan dalam bentuk segar atau diproses menjadi silase. Hasil Penelitian menunjukan penggunaan pelepah sawit dalam bentuk silase pada sapi sebanyak 50% dari total pakan dapat menghasilkan pertambahan bobot badan harian berkisar 0,62-0,75 kg dengan nilai konversi pakan antara 9 - 10.
Fermentasi pelepah kelapa sawit menjadi silase ditujukan preservasi dan konsentrat, pengaruhnya terhadap nilai gizi bahan relatif kecil, Adapun untuk meningkatkan kandungan gisi dalam proses fermentasi dapat ditambahkan urea. Penambahan urea sebanyak 3-6% akan meningkatkan kandungan protein bahan dari 5,6 menjadi 12,5 atau 20%.
Tahapan pembuatan silase dimulai dari melakukan pencacahan bahan menjadi partikel yang halus. Cacahan pelepah kelapa sawit tersebut dicampur dengan salahsatu bahan berikut ini: tepung kanji, tepung jagung, onggok atau molases sebanyak 3-5% dari berat bahan. Bahan mana yang dipilih untuk campurannya tergantung dari apakah bahan tersebut mudah didapat atau tidan dan tingkat harga ekonomisnya.
Selanjutnya tambahkan juga urea 3-6%, kemudian semua bahan dimasukan ke dalam drum. padatkan dan tutup rapat untuk mempertahankan kondisi tanpa udara (anerob) selama 2-3 minggu, baru bisa digunakan. Pada saat selase dibuka, kering anginkan terlebih dahulu baru diberikan kepada ternak. Silase dapat disimpan dalam waktu yang lama. bahkan bertahun-tahun tanpa mengalami penurunan nilai nutrisi.
sumber: Sinar Tani Edisi 21-27 Agustus 2013

Pameran dan Gelar Inovasi Teknologi Perkebunan, ENIP III 2013

Agribisnis perkebunan diprediksi akan semakin menarik pada tahun-tahun mendatang. Masuknya berbagai perusahaan nasional sebagai investor dan pelaku bisnis menjadi salah satu pendorong munculnya gairah usaha perkebunan ini. Di sisi lain, beberapa produk perkebunan Indonesia, seperti kakao, karet, kopi, lada, vanili, kopra, kelapa sawit, minyak atsiri, tembakau, dan jambu mete, diakui memiliki keunggulan komparatif di pasar Internasional, sehingga peluang produk Indonesia untuk masuk ke pasar internasional terbuka cukup lebar.
Badan Litbang Pertanian, sebagai penghasil inovasi teknologi maupun inovasi kebijakan, sangat menyadari bahwa pelaku usaha perkebunan, baik dalam kapasitasnya sebagai mitra pemerintah maupun dalam sebagai pihak yang menjalankan usahanya sendiri, memerlukan adanya inovasi dalam berusaha. Tujuannya tentu untuk meningkatkan keuntungan melalui peningkatan efisiensi dan efektivitas kinerja.
Terkait dengan hal itu, kegiatan penelitian di bidang perkebunan telah dilakukan dengan porsi perhatian yang cukup besar. Tidak hanya itu, teknologi yang dihasilkan juga diperderas penyampaiannya ke calon pengguna melalui berbagai “channel”, yang salah satunya melalui penyelenggaraan EXPO NASIONAL INOVASI PERKEBUNAN (ENIP) III 2013
Dari rangkaian kegiatan Pameran dan Gelar Inovasi Teknologi Perkebunan, ENIP III, di JCC, Jakarta tanggal 30 Agustus–1 September 2013.  Puslitbangnak menampilkan inovasi teknologi  Sistem Integrasi Ternak dengan Perkebunan yang merupakan suatu sistem usahatani tanaman – ternak yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia.

Jumat, Agustus 30, 2013

Cara efektif untuk menanggulangi penyakit utama pada ayam kampung


Ayam lokal, yang lebih dikenal dengan ayam kampung memiliki karakter yang unik dan tetap harus dipertahankan sebagai sumber plasma nutfah yang sangat berharga di negeri ini. Ayam kampung secara fisiologis dan genetik belum banyak dieksploitasi, sehingga potensi genetiknya masih terdistribusi secara proporsional bila dipandang dari konsep transformasi energi. Hal ini berarti kemampuan tumbuh dan produksinya terseleksi secara alamiah tanpa harus mengorbankan kemampuannya bertahan terhadap serangan penyakit.

Ayam kampung adalah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia dan hampir setiap rumah tangga memiliki ayam peliharaan berupa ayam kampung. Di pedesaan ayam kampung adalah tabungan hidup petani yang dalam waktu cepat dapat diuangkan dan digunakan untuk berbagai kepentingannya, sehingga dengan demikian posisi ayam kampung menjadi sangat strategis dalam mendukung ekonomi keluarga Indonesia, khususnya di pedesaan. Banyak keuntungan dan kelebihan yang bisa ditawarkan dari pemeliharaan ayam kampung, namun dengan merebaknya avian influenza (AI) keberadaan ayam kampung, khususnya yang dipelihara secara umbaran ada dalam kondisi dilematis. Pemerintah menyadari harus ada perlakuan khusus yang harus diberikan agar ayam kampung tetap berkembang dan tidak berperan sebagai reservoir dalam penyebaran AI yang potensial menular ke manusia.

Beberapa penyakit penting pada ayam kampung  yang secara ekonomis mempunyai dampak signifikan terhadap kesehatan ayam kampung dapat dikelompokkan berdasarkan agen penyebabnya:


  • Penyakit yang disebabkan oleh virus yang sering terjadi pada ayam kampung adalah: Newcastle Disease (ND) atau tetelo, Avian Influenza (AI) dan penyakit Gumboro/Infectious Bursal Disease(IBD). Ketiga penyakit ini sangat berpengaruh pada ayam kampung, khususnya pada ayam kampung yang dipelihara secara umbaran.
  • Penyakit unggas yang disebabkan oleh bakteri antara lain:Snot/coryza, Chronic Respiratory Disease(CRD), kolibasilosis dan cholera. Penyakit parasit yang harus diwaspadai adalah: cacing gelang, cacing pita, dan koksidiosis.
  • Penyakit non-infeksius seperti stres akibat panas, kepadatan, mishandling masih dijumpai.

Penanggulangan penyakit-tersebut dapat ditanggulangi melalui pemberian asupan nutrisi yang seimbang dan memadai, penerapan biosekuriti yang ketat, vaksinasi dan pengobatan. Pelaksanaan vaksinasi dan cakupan vaksinasi yang kurang tepat, titer antibodi yang tidak memadai dan status ketahanan individu hewan terhadap endemis suatu penyakit (misalnya AI, ND,Gumboro atau penyakit lain) dapat menyebabkan manifestasi subklinik penyakit yang bersangkutan.

Secara umum penerapan biosekuriti dan vaksinasi masih dipandang sebagai cara yang efektif untuk menanggulangi penyakit utama yang sering terjadi pada ayam kampung.
Sumber: Prosiding Workshop Nasional Unggas Lokal 2012

Suplementasi hijauan murbei dapat meningkatkan produktivitas domba dan kambing

Protein merupakan salah satu nutrient yang menjadi faktor penentu tingkat produktivitas ternak termasuk kambing dan domba. Namun pada umumnya bahan pakan sumber protein yang berasal dari kacang-kacangan maupun hasil samping industri pertanian harganya mahal sehingga terkadang tidak terjangkau oleh daya beli peternak skala kecil maupun yang berada di pedesaan.

Dilain pihak ternak ruminansia mempunyai kelebihan dibandingkan dengan ternak non ruminansia dalam hal pemanfaatan sumber protein dari hijauan untuk mencukupi kebutuhan akan proteinnya. Oleh karena itu, meningkatkan produktivitas domba dan kambing, perlu dicari alternative sumber protein yang murah dan tersedia sepanjang tahun. Tanaman murbei dapat tumbuh sepanjang tahun di daerah iklim tropis seperti di Indonesia.

Hijauan dari tanaman murbei mempunyai kandungan protein yan tinggi (> 20%) sehingga sangat potensial untuk digunakan sebagai sumber protein hijauan pada pakan kambing dan domba. Dilaporkan bahwa suplementasi hijauan murbei pada pakan domba dapat meningkatkan total konsumsi bahan kering sebesar 22,5% dan dibarengi dengan peningkatan kenaikan bobot badan harian domba sebesar 85% dibandingkan pakan yang tidak disuplementasi dengan hijauan murbei.
sumber: WARTAZOA Vol.22 No.1 Th.2012

Kamis, Agustus 29, 2013

Itik PMp, Alternatif Penyedia Daging dan Telur Unggas

Permintaan terhadap daging itik yang terus meningkat selama ini menunjukkan makin terbukanya pasar daging itik di Indonesia, sebagai alternatif daging unggas dalam menyediakan protein hewani murah bagi masyarakat.

Perubahan kondisi ini perlu ditanggapi dengan baik oleh sistem produksi yang ada, yang selama ini lebih didominasi untuk produksi telur itik. Sumber daging itik yang ada umumnya berasal dari itik tipe petelur dengan ukuran karkas kecil, yaitu itik jantan muda yang digemukkan atau itik betina petelur setelah selesai masa bertelurnya, untuk konsumen kelas menengah ke bawah.

Itik PMp merupakan bibit itik tipe pedaging baru yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor. Itik ini merupakan hasil persilangan antara itik Peking dan itik Mojosari putih. Itik PMp berbulu putih, warna kulit karkas bersih dan cerah.

Keunggulan Itik PMp dapat digunakan sebagai itik pedaging dan itik petelur. Bobot itik PMp sekitar 2-2,5 kg pada umur 10 minggu. Jika dikawinkan dengan entog jantan menghasilkan itik serati dengan bobot badan lebih dari 3 kg pada umur 10 minggu. Sebagai itik petelur, umur bertelur pertama 5,5 – 6 bulan. Nilai konversi pakan bagi itik PMp adalah 2,7 – 2,9 (umur 1-3 minggu) dan 3,9 – 4,7 (umur 4-10 minggu).

Kehadiran itik PMp ini dapat sebagai alternatif bagi peternak sebagai penyediaan daging dan telur unggas, selain ayam dan potensial dikembangkan oleh penangkar bibit unggas. Selain itu, dalam upaya memenuhi kebutuhan daging itik, adanya itik PMp ini juga merupakan substitusi daging itik impor.
Sumber: Balai Penelitian Ternak (Balitnak)