Peningkatan performan ternak domba dapat dilakukan dengan cara menyusun ransum yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan gizinya. Ransum yang baik memiliki kecernaan yang tinggi agar mudah diserap oleh ternak dan upaya peningkatan kecernaan dalam rumen sering ditambahkan feed additive. Salah satu feed additive yang sekarang sedang populer dalam peningkatan produksi dan kesehatan ternak adalah probiotik, yang dapat menggantikan peran antibiotik. Probiotik mengandung komponen-komponen yang dibutuhkan ternak seperti vitamin dan enzim serta zat yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh ternak. Probiotik merupakan pakan aditif berupa mikroba hidup yang dapat meningkatkan keseimbangan dan fungsi pencernaan hewan, serta meningkatkan kondisi kesehatan dan meningkatkan produktivitas ternak. Mikroba hidup yang aman dikonsumsi ternak itu ada tiga jenis: golongan bakteri, protozoa, dan cendawan. Probiotik yang diintroduksikan pada Kelompok Tani Makmur di Desa Puluhan, Klaten ini diberi nama Biokult yang mengandung mikroba hidup dari jenis bakteri Lactobacillus casei dan merupakan hasil pengembangbiakan dari bakteri hidup yang ada di dalam minuman Yakult. Bahan yang digunakan untuk membuat Biokult ini adalah 1 botol (50 ml) yakult, 4 liter tetes tebu dan 40 liter air. Ketiga bahan tersebut dicampur dalam tong plastik dan diaduk sampai homogen kemudian tutup rapat, pengadukan dilakukan setiap hari. Setelah hari ke 3 tercium bau harum Biokult dan mulai bisa digunakan untuk pakan ternak. Daya kerja biokult ini efektif sampai 21 hari semenjak pembuatannya. Biokult diujicobakan pada 5 ekor ternak domba lokal jantan dan hasilnya dibandingkan dengan 5 ekor domba lokal jantan lain yang tidak memperoleh Biokult. Masing-masing ternak domba dari 2 kelompok perlakuan tersebut memperoleh pakan yang sama, yaitu pollard 0,5 kg/hari, ampas tahu 0.5 kg dan rumput lapangan tak terbatas (ad libitum). Perlakuan biokult yakni dengan mencampurkannya ke dalam pollard sebanyak 4% (20 ml/ekor/hari).
Kamis, September 05, 2013
Biokult: Bahan pakan adatif dalam bentuk Probiotik untuk meningkakan Produktivitas Domba
Peningkatan performan ternak domba dapat dilakukan dengan cara menyusun ransum yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan gizinya. Ransum yang baik memiliki kecernaan yang tinggi agar mudah diserap oleh ternak dan upaya peningkatan kecernaan dalam rumen sering ditambahkan feed additive. Salah satu feed additive yang sekarang sedang populer dalam peningkatan produksi dan kesehatan ternak adalah probiotik, yang dapat menggantikan peran antibiotik. Probiotik mengandung komponen-komponen yang dibutuhkan ternak seperti vitamin dan enzim serta zat yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh ternak. Probiotik merupakan pakan aditif berupa mikroba hidup yang dapat meningkatkan keseimbangan dan fungsi pencernaan hewan, serta meningkatkan kondisi kesehatan dan meningkatkan produktivitas ternak. Mikroba hidup yang aman dikonsumsi ternak itu ada tiga jenis: golongan bakteri, protozoa, dan cendawan. Probiotik yang diintroduksikan pada Kelompok Tani Makmur di Desa Puluhan, Klaten ini diberi nama Biokult yang mengandung mikroba hidup dari jenis bakteri Lactobacillus casei dan merupakan hasil pengembangbiakan dari bakteri hidup yang ada di dalam minuman Yakult. Bahan yang digunakan untuk membuat Biokult ini adalah 1 botol (50 ml) yakult, 4 liter tetes tebu dan 40 liter air. Ketiga bahan tersebut dicampur dalam tong plastik dan diaduk sampai homogen kemudian tutup rapat, pengadukan dilakukan setiap hari. Setelah hari ke 3 tercium bau harum Biokult dan mulai bisa digunakan untuk pakan ternak. Daya kerja biokult ini efektif sampai 21 hari semenjak pembuatannya. Biokult diujicobakan pada 5 ekor ternak domba lokal jantan dan hasilnya dibandingkan dengan 5 ekor domba lokal jantan lain yang tidak memperoleh Biokult. Masing-masing ternak domba dari 2 kelompok perlakuan tersebut memperoleh pakan yang sama, yaitu pollard 0,5 kg/hari, ampas tahu 0.5 kg dan rumput lapangan tak terbatas (ad libitum). Perlakuan biokult yakni dengan mencampurkannya ke dalam pollard sebanyak 4% (20 ml/ekor/hari).
Rabu, September 04, 2013
Optimalisasi pemanfaatan bahan pakan lokal untuk meningkatkan produktivitas ayam kampung
Bahan pakan lokal konvensional maupun inkonvensional terdiri dari sumber protein nabati, protein hewani dan energi. Penggunaan bahan pakan lokal yang berasal dari limbah pertanian dan limbah industri mempunyai kendala antara lain rendahnya kandungan zat nutrisi dan adanya zat anti nutrisi yang dapat menurunkan produktivitas ternak . Pemberian bahan pakan dalam bentuk mentah dapat mengganggu perkembangan dan fungsi organ tubuh, sehingga dapat menghambat proses pencernaan dan menurunkan efisiensi penggunaan pakan.
Oleh karena itu telah dikembangkan teknologi pengolahan yang mudah diaplikasikan untuk mengoptimalkan penggunaan bahan pakan lokal dalam pakan ayam kampung maupun ayam ras, karena diasumsikan bahwa daya toleransi penggunaan bahan pakan untuk ayam ras dapat diaplikasikan pada ayam kampung.
Bahan Pakan Sumber Protein Nabati
Bahan pakan yang biasa digunakan sebagai sumber protein nabati seperti bungkil kedelai, bungkil kacang tanah dan bungkil kelapa untuk pakan ayam ketersediaannya masih berfluktuatif dan bersaing dengan ternak lainnya serta harganya relatif mahal. Pengujian terhadap beberapa bahan pakan sumber protein nabati alternatif seperti bungkil biji kapuk, bungkil biji kemiri dan bungkil biji karet masing-masing sebanyak 10 % pada ayam kampung, dapat memperbaiki konversi pakan dari 4,6 menjadi 4,1 (11,5%).
Bahan Pakan Sumber Protein Nabati
Bahan pakan yang biasa digunakan sebagai sumber protein nabati seperti bungkil kedelai, bungkil kacang tanah dan bungkil kelapa untuk pakan ayam ketersediaannya masih berfluktuatif dan bersaing dengan ternak lainnya serta harganya relatif mahal. Pengujian terhadap beberapa bahan pakan sumber protein nabati alternatif seperti bungkil biji kapuk, bungkil biji kemiri dan bungkil biji karet masing-masing sebanyak 10 % pada ayam kampung, dapat memperbaiki konversi pakan dari 4,6 menjadi 4,1 (11,5%).
Selasa, September 03, 2013
Peta Sumberdaya Genetik Ayam Lokal Indonesia
Ayam Pelung,Cianjur Jawa Barat
Keunggulan: suaranya merdu Bobot badan besar |
Ayam sentul, Ciamis Jawa Barat
Ciri spesifik: warna dasar bulu abu-abu Keunggulan: bobot badan sedang, cocok sebagai ayam pedaging |
Ayam Ciparage, Karawang, Jawa Barat
Keunggulan: Ayam aduan Status: Punah |
Ayam Jantur, Subang Jawa Barat.
Ciri spesifik tanpa bulu |
Ayam Wareng, Tangerang Banten
Keunggulan: Produksi telur tinggi Tipe ringan, punah |
Ayam Kampung, Jawa Barat
Keunggulan: tekstur dan rasa daging spesifik |
Ayam Cemani, Temanggung Jawa Tengah.
Ciri spesifik warna hitam pada semua bagian tubuhnya termasuk trachea dan cloaca |
Ayam Kedu Hitam, Temanggung Jawa Tengah.
Ciri spesifik warna bulu hitam Keunggulan: Produksi telur tinggi |
Ayam Kedu Putih, Temanggung Jawa Tengah.
Ciri spesifik warna bulu putih Keunggulan: produksi telur tinggi |
Ayam Gaok, Madura, Jawa Timur
Ciri spesifik :warna bulu putih hitam Keunggulan: bobot badan besar |
Ayam Nunukan, Kaltim.
Ciri spesifik warna bulu merah buff, bulu bagian ekor pendek Keunggulan: tipe dwiguna daging dan telur |
Ayam Merawang, Bangka Belitung.
Ciri spesifik warna bulu merah buff, keunggulan: produksi telur tinggi |
Ayam Arab Silver, Jawa Timur
Ciri spesifik warna bulu hitam-putih blorok, keunggulan: produksi telur tinggi |
Ayam Kapas, Sumatera Selatan,
SDG ayam hias |
Ayam Poland, DKI, SDG ayam hias
|
Ayam Serama, DKI,
SDG ayam hias |
Ayam Kate, Yogyakarta
SDG ayam hias |
Ayam Kate, Yogyakarta,
SDG ayam hias |
Senin, September 02, 2013
Murahnya ternak sapi dengan pakan pelepah kelapa sawit
Dengan harga pakan yang relatif lebih murah di perkebunan sawit in, mestinya PTPN VI ini bisa ikut membantu operasi pasar dengan harga Rp 32 ribu/bobot hidup. Harga ini sebenarnya masih sangat masuk di PTPN (VI) ini. Oleh karena itu, saya berharap budidaya sapi integrasi dengan kelapa sawit seperti ini bisa juga membantu menurunkan harga daging sapi di Jambi yang masih tinggi, masih Rp 100 ribu. Jadi, dengan adanya peternakan di sini, lalu kemudian nanti dari Lampung, sapi-sapi yang siap potong, mudah-mudahan tidak lama lagi bisa diturunkan harga," jelas Menteri Pertanian, Suswono saat berkunjung ke Propinsi Jambi untuk memantau harga daging sapi pada Lebaran Idul Fitri lalu.
Manajemen PTPN VI di Muhajirin, Kabupaten Muaro Jambi menjelaskan bahwa proses pemeliharaan sapi di perusahaannya menggunakan pelepah kelapa sawit sebagai pakan utamanya. Pelepah kelapa sawit itu terlebih dahulu dilebur dengan menggunakan mesin penghancur pelepah kelapa sawit.
Sistem integrasi sawit-sapi yang dilakukan oleh PTPN VI jelas Suswono menerapkan sistem kandang koloni. "Sapi tidak dilepas, sapi relatif tidak banyak bergerak jadi ada percepatan dalam penggemukan. Pelepah dan bungkil sawit adalah bahan baku yang relatif sangat murah. Peningkatan bobot hidupnya bisa mencapai 1 kg per hari untuk sapi ongol. Saya kira ini normal dan bagus," jelas Suswono.
Dengan biaya budidaya sistem integrasi kelapa sawit-sapi ini Mentan yakin harga daging sapi di Jambi bisa lebih rendah. "Kalau kita lihat harga di pasar ternak, harga di angka 32 sampai 35, katakanlah ambil rata-rata 32, maka sebetulnya harga daging sapi Rp 80 sampai Rp 85 ribu itu masih masuk sekali di Jambi ini, di sini ada pedagang yang mengambil keuntungannya agak tinggi. Jadi saya berharap, harga daging sapi bisa Rp 83 ribu karena harga sapi hidupnya tidak terlalu tinggi, masih cukup," jelas Suswono.
Sistem integrasi sawit-sapi yang dilakukan oleh PTPN VI jelas Suswono menerapkan sistem kandang koloni. "Sapi tidak dilepas, sapi relatif tidak banyak bergerak jadi ada percepatan dalam penggemukan. Pelepah dan bungkil sawit adalah bahan baku yang relatif sangat murah. Peningkatan bobot hidupnya bisa mencapai 1 kg per hari untuk sapi ongol. Saya kira ini normal dan bagus," jelas Suswono.
Dengan biaya budidaya sistem integrasi kelapa sawit-sapi ini Mentan yakin harga daging sapi di Jambi bisa lebih rendah. "Kalau kita lihat harga di pasar ternak, harga di angka 32 sampai 35, katakanlah ambil rata-rata 32, maka sebetulnya harga daging sapi Rp 80 sampai Rp 85 ribu itu masih masuk sekali di Jambi ini, di sini ada pedagang yang mengambil keuntungannya agak tinggi. Jadi saya berharap, harga daging sapi bisa Rp 83 ribu karena harga sapi hidupnya tidak terlalu tinggi, masih cukup," jelas Suswono.
Pembuatan silase pelepah kelapa sawit sebagai pakan ternak
Kandungan zat gizi ternak dari daun kelapa sawit cukup lumayan, antara lain mengandung protein kasar 14,8% ligin 27,6% dan kecernaan invitro kurang dari 50%. Daun sawit memiliki keambaan , daya serap air dan kelarutan yang lebih tinggi. Nilai keambaan yang tinggi merupakan karakteristik berserat tinggi.
Pelepah kelapa sawit dpat diberikan dalam bentuk segar atau diproses menjadi silase. Hasil Penelitian menunjukan penggunaan pelepah sawit dalam bentuk silase pada sapi sebanyak 50% dari total pakan dapat menghasilkan pertambahan bobot badan harian berkisar 0,62-0,75 kg dengan nilai konversi pakan antara 9 - 10.
Fermentasi pelepah kelapa sawit menjadi silase ditujukan preservasi dan konsentrat, pengaruhnya terhadap nilai gizi bahan relatif kecil, Adapun untuk meningkatkan kandungan gisi dalam proses fermentasi dapat ditambahkan urea. Penambahan urea sebanyak 3-6% akan meningkatkan kandungan protein bahan dari 5,6 menjadi 12,5 atau 20%.
Tahapan pembuatan silase dimulai dari melakukan pencacahan bahan menjadi partikel yang halus. Cacahan pelepah kelapa sawit tersebut dicampur dengan salahsatu bahan berikut ini: tepung kanji, tepung jagung, onggok atau molases sebanyak 3-5% dari berat bahan. Bahan mana yang dipilih untuk campurannya tergantung dari apakah bahan tersebut mudah didapat atau tidan dan tingkat harga ekonomisnya.
Selanjutnya tambahkan juga urea 3-6%, kemudian semua bahan dimasukan ke dalam drum. padatkan dan tutup rapat untuk mempertahankan kondisi tanpa udara (anerob) selama 2-3 minggu, baru bisa digunakan. Pada saat selase dibuka, kering anginkan terlebih dahulu baru diberikan kepada ternak. Silase dapat disimpan dalam waktu yang lama. bahkan bertahun-tahun tanpa mengalami penurunan nilai nutrisi.
sumber: Sinar Tani Edisi 21-27 Agustus 2013
Pameran dan Gelar Inovasi Teknologi Perkebunan, ENIP III 2013
Badan Litbang Pertanian, sebagai penghasil inovasi teknologi maupun inovasi kebijakan, sangat menyadari bahwa pelaku usaha perkebunan, baik dalam kapasitasnya sebagai mitra pemerintah maupun dalam sebagai pihak yang menjalankan usahanya sendiri, memerlukan adanya inovasi dalam berusaha. Tujuannya tentu untuk meningkatkan keuntungan melalui peningkatan efisiensi dan efektivitas kinerja.
Terkait dengan hal itu, kegiatan penelitian di bidang perkebunan telah dilakukan dengan porsi perhatian yang cukup besar. Tidak hanya itu, teknologi yang dihasilkan juga diperderas penyampaiannya ke calon pengguna melalui berbagai “channel”, yang salah satunya melalui penyelenggaraan EXPO NASIONAL INOVASI PERKEBUNAN (ENIP) III 2013Dari rangkaian kegiatan Pameran dan Gelar Inovasi Teknologi Perkebunan, ENIP III, di JCC, Jakarta tanggal 30 Agustus–1 September 2013. Puslitbangnak menampilkan inovasi teknologi Sistem Integrasi Ternak dengan Perkebunan yang merupakan suatu sistem usahatani tanaman – ternak yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia.





