Kandang Kelompok

Kandang Kelompok ”Model Grati” merupakan model perkandangan yang dirancang dengan memperhatikan dalam satu ruang kandang ditempatkan beberapa ekor sapi induk/calon induk.

Ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Badan Litbang Pertanian)

Bobot badan : 1.200 -1.600 gram, Bobot telur : 35-45 gram, Umur pertama bertelur lebih awal (20 - 22 minggu),Produktivitas telur lebih tinggi (130 -160 butir/ekor/tahun, Produksi telur (henday) : 50 %, Puncak produksi telur : 65 %,Lebih tahan terhadap penyakit

Rabu, April 09, 2014

Teknologi Kriopreservasi Primordial Germ Cell (PGC) Pada Unggas

Indonesia memiliki potensi sumberdaya plasmanutfah unggas lokal yang berlimpah, sehingga materi genetik tersebut perlu dikonservasi untuk digunakan dalam pengembangan unggas diwaktu mendatang. Konservasi plasmanutfah unggas hidup, baik secara in-situ maupun ex-situ akan sangat mahal dan beresiko kematian yang tinggi akibat penyakit seperti flu burung.
Kriopreservasi Primordial Germ Cells (PGC) yang merupakan progenitor dari sel telur dan spematozoa, adalah cara altrnatif untuk preservasi materi genetik baik pada unggas jantan maupun betina. PGC secara spesifik dapat dipanen dari darah embrio dan dapat disimpan didalam nitrogen cair seperti halnya pada sperma, ovum atau embrio pada hewan ruminansia. Teknik untuk menghasilkan ayam germline chimeria telah dapat dilakukan dengan cara mentransfer PGC kedalam sirkuliasi darah embrio. Perkawinan antara ayam chimera jantan dan betina akan menghasilkan keturunan yang berasal seluruhnya dari donor PGC. Konservasi materi genetik plasmanutfah unggas Indonesia yang dilakukan melalui penyimpanan PGC dapat digunakan untuk pengembangan unggas dimasa mendatang.

Keterangan Gambar:
A. Koleksi darah embrio umur 56 jam (stage 114-15);
B. Embrio resepien yang siap disuntik dengan PGC donor;
C. PGC ayam lokal;
D. Embrio hasil penyuntikan PGC donor yang siap ditetaskan;
E. Ayam Chimera yang telah dihasilkan Balitnak.

Jumat, April 04, 2014

Rumput Penyelamat Area Tailing

Eksploitasi sumber daya alam seperti industri pertambangan adalah suatu kegiatan yang tak terelakkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sumber keuangan negara, dan lain-lain. Eksploitasi ini akan memberikan dampak lingkungan, budaya, sosial baik positif maupun negatif. Industri pertambangan merupakan salah satu industri yang berdampak kerusakan lingkungan baik fisik maupun sosial, karena industri ini menghasilkan limbah yang cukup besar dalam bentuk tailing dan beberapa pertambangan menghasilkan residu berupa logam berat yang bersifat toksis dan akumulatif dalam tubuh makhluk hidup.
Tailing adalah limbah industri pertambangan baik emas, tembaga maupun perak. Tailing terdiri dari batuan yang telah hancur dari batuan mineral yang telah diambil mineralnya dan mempunyai porositas tinggi sehingga kapasitas memegang air rendah, struktur tidak stabil, sangat miskin bahan organik, aktivitas mikroba tidak ada sama sekali. Pemilihan spesies tanaman, termasuk Tanaman Pakan Ternak (TPT) untuk rehabilitasi area bekas tambang sangat krusial tergantung tujuan penanaman. Ada kelompok tanaman yang bersifat mengekstraksi, mendegradasi dan menstabilkan kontaminan misalnya logam berat. TPT yang bersifat mengekstraksi kontaminan, terutama logam berat tidak dapat dikonsumsi oleh ternak karena akan terakumulasi di dalam tubuhnya dan akan masuk ke rantai makanan. Sehingga TPT yang bersifat akumulator dapat digunakan untuk membersihkan kontaminan pada area bekas tambang. Untuk tujuan kegiatan pertanian perlu dilakukan secara hati-hati sebelum produk pertanian dapat dikonsumsi manusia.
Budidaya tanaman apapun di area tailing perlu strategi tertentu untuk mengelolanya. Kondisi tailing yang secara fisik sangat sarang (porous), miskin hara dan bahan organik, maka perlu pemupukan dengan pupuk organik dan kimia secara seimbang.
Tanaman Pakan Ternak yang mencakup rumput dan leguminosa selain sebagai sumber hijauan pakan untuk ternak, juga mempunyai fungsi lain yang penting dalam sistem pertanian maupun lingkungan antara lain sebagai pupuk hijau, tanaman penutup tanah, pengontrol gulma, pengontrol erosi tanah, sebagai tanaman pagar pembatas lahan, membantu konservasi air, fitoremediasi bahkan dapat sebagai komoditas ekspor.
Ada beberapa alasan mengapa rumput cocok sebagai tanaman pakan ternak dan sebagai tanaman konservasi tanah, yaitu: (1) rumput mampu membentuk tunas-tunas baru sebagai pengganti batang yang dimakan ternak. Tunas-tunas baru itu tumbuh pada pangkal batang, dekat permukaan tanah, sehingga tidak rusak apabila terjadi pemotongan atau penggembalaan; (2) sebagian besar rumput mampu mempertahankan pertumbuhan vegetatif terus menerus dan hanya terhenti pada musim kering; (3) banyak rumput yang berkembang biak dengan rimpang atau stolon yang dengan mudah membentuk akar-akar baru sehingga permukaan tanah dapat cepat tertutup; (4) sistem perakarannya mampu mengikat partikel-partikel tanah dan membentuk jalinan akar (sod). Akar ini mengangkat zat hara yang telah tercuci oleh hujan lebat dari dalam tanah ke permukaan.
Beberapa jenis rumput yang direkomendasikan untuk reklamasi area tailing adalah Brachiaria spp.; Cenchrus ciliaris (rumput Cenchrus); Chloris gayana (rumput Rhodes); Cynodon dactylon, Digitaria decumbens (rumput Pangola); Panicum maximum (rumput Benggala); Paspalum notatum, Vetiveria zizanioides.

Selasa, Maret 25, 2014

265 butir telur pertahun


Telur itik merupakan salah satu sumber gizi yang baik. Kandungan zat gizi yang terdapat pada telur itik diantaranya energi, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, Vitamin B, dan air.  Mengonsumsi telur itik dalam jumlah normal yaitu 1-2 butir per hari, akan memberikan sumbangan gizi yang sangat berarti bagi kesehatan tubuh (http://suksesdansehat.wordpress.com/).

Untuk menghasilkan itik hibrida petelur unggul, seleksi terhadap sekelompok itik Alabio dan itik Mojosari dilakukan di Badan Litbang Pertanian. Itik hibrida petelur unggul yang diberi nama ITIK MASTER diperoleh dari hasil persilangan beberapa generasi diantara kedua kelompok terseleksi tersebut.
Produksi telur ITIK MASTER per tahun mencapai 265 butir dengan masa produksi 10-12 bulan/siklus tanpa rontok bulu, umur pertama bertelur 18 minggu yang berarti lebih sebulan lebih cepat dibandingkan dengan itik tetuanya, tingkat kematian sangat rendah yaitu di bawah satu persen, serta rasio penggunaan pakan (FCR) 3,2. Identifikasi jenis kelamin pada saat menetas mudah, hanya berdasarkan warna bulu (jantan berwarna lebih gelap), warna bulu spesifik dan sangat seragam, warna kulit telur seragam hijau kebiruan, pertumbuhan anak itik jantan lebih cepat sehingga cocok untuk penggemukan sebagai itik potong ukuran sedang.
ITIK MASTER mampu beradaptasi dengan lingkungan dan berpotensi sebagai bibit niaga penghasil telur dengan sistem terkurung/intensif. Pemeliharaan itik secara intensif menimbulkan konsekuensi meningkatnya biaya produksi. Untuk itu, agar usaha ternak itik tetap menguntungkan diperlukan aplikasi teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi, serta penerapan prinsip-prinsip ekonomis usaha. Salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan adalah penggunaan bibit unggul yang dihasilkan dari penerapan teknologi pemuliaan pada ternak-ternak yang memang potensial, di samping pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak secara tepat.
http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/ 

Teknologi Perbanyakan Alfalfa (Medicago Sativa) Secara Vegetatif

Alfalfa (Medicago satva) merupakan tanaman jenis leguminosa  pakan ternak yang mempunyai kandungan protein, vitamin dan mineral yang tinggi. Tanaman Alfalfa merupakan tanaman subtropis yang telah dibudidayakan di Indonesia namun  tidak dapat menghasilkan biji  sehingga untuk perbanyakan  harus impor biji. Teknologi perbanyakan tanaman dengan kultur jaringan dapat mengurangi impor biji apabila akan  diperbanyak  untuk hijauan pakan ternak. Teknologi perbanyakan tanaman ini memiliki keunggulan mengurangi impor biji  alfalfa apabila akan dikembangkan sebagai tanaman pakan ternak. Prinsip kerja teknologi yakni memanfaatkan formula media zat pengatur tumbuh  tunas dan perakaran untuk menghasilkan planlet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pemakaian kombinasi formula zat pengatur tumbuh tunas dan akar  dapat memperbanyak dari satu tunas menghasilkan lima sampai delapan tunas.




Senin, Maret 24, 2014

Cara menurunkan Emisi Gas Metana dan Meningkatkan Produksi Ternak

Penurunan emisi gas metana dapat dilakukan dengan mengkonsumsi bahan pakan tertentu. Bahan-bahan pakan berikut berpotensi menurunkan metana 10 -30 %
Pakan aditif:
.
Bunga sepatu (Hisbiscus rosasinensis)
  • Daun bunga sepatu mengandung saponin
  • Untuk menurunkan populasi protozoa rumen
  • Gunakan 5% dalam campuran pakan hijaun
.
Pisang (Musa paradisiaca)
  • Daun pisang mengandung saponin dan wax
  • Untuk menekan pertumbuhan protozoa rumen
  • Gunakan hingga 5% dalam campuran hijaun
.
Daun jambu biji (Psidium guajava)
  • Dapat menekan pertumbuhan protozoa rumen
  • Mempunyai kemampuan antibakteri
  • Gunakan hingga 5% dalam campuran hijaun
.
Daun Singkong (Manihot esculenta)
  • Kandungan protein cukup tinggi (20%)
  • Layukan untuk mengurangi kandungan HCN
  • Meningkatkan pertumbuhan ternak
  • Gunakan hingga 30% dalam campuran hijauan
.
Biji Lerak (Sapindus rarak)
  • Biji lerak mengandung saponin tinggi
  • Untuk menekan pertumbuhan protozoa rumen
  • Gunakan 1,0 hingga 1,5 % dalam konsentrat
  • Menurunkan produksi metana 20%
.
Papaya (Carica papaya)
  • Daun papaya mengandung papain
  • Dapat digunakan sebagai anti bakteri
  • Gunakan 1 - 1,5 % dalam campuran hijauan
  • Menurunkan produksi metana 20%
.
FBS (Feed Block Suplement)
  • Menurunkan 10 % produksi metana
  • Meningkatkan pertumbuhan ternak 15%
  • Meningkatkan efisiensi pakan
  • Gunakan 1 Block 3 Kg/ekor/bulan