Kandang Kelompok

Kandang Kelompok ”Model Grati” merupakan model perkandangan yang dirancang dengan memperhatikan dalam satu ruang kandang ditempatkan beberapa ekor sapi induk/calon induk.

Ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Badan Litbang Pertanian)

Bobot badan : 1.200 -1.600 gram, Bobot telur : 35-45 gram, Umur pertama bertelur lebih awal (20 - 22 minggu),Produktivitas telur lebih tinggi (130 -160 butir/ekor/tahun, Produksi telur (henday) : 50 %, Puncak produksi telur : 65 %,Lebih tahan terhadap penyakit

Selasa, Februari 03, 2015

Ransum pre-starter berbahan papaya matang pada ayam lokal KUB meningkatkan nilai efisiensi

Penelitian pemberian ransum pre-starter berbahan papaya matang  pada ayam lokal KUB telah telah dilakukan oleh peneliti Balai Penelitian Ternak dan Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.

Percobaan ini  dilaksanakan dengan menggunakan 480 ekor anak ayam umur satu hari yang diamati sampai dengan umur 84 hari. Ini merupakan percobaan pertama yang masih memerlukan percobaan lanjutan untuk menggali lebih dalam lagi berbagai respon fisiologis, yang ditimbulkan ayam lokal dan sekaligus memberikan informasi pengaruh berbagai bahan pakan lokal yang diformulasikan dalam ransum pre-starter.

Secara umum hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian ransum pre-starter berbahan papaya matang pada ayam lokal KUB meningkatkan nilai efisiensi kinerja (EPEF= European performance efficiency factor), sebagai akibat meningkatnya efisiensi penggunaan ransum dan tingkat vitalitas yang tinggi. (REP)

Informasi selengkapnya dapat dibaca pada : http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=47076

Senin, Februari 02, 2015

Bisnis Menggiurkan dari Kelinci Rex


Eksotisme Kelinci menyimpan bisnis menggiurkan di baliknnya. Federasi Industri Kulit Internasional melaporkan bisnis Kulit kelinci dunia mencapai US$ 5 miliar atau sekitar Rp 60 triliun. Menurut Peneliti Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Dr. Yono C Rahardjo, Kelinci Rex menghasilkan bisnis beragam.  Mulai dari bisnis anak kelinci sebagai binatang kesayangan, bibit kelunci untuk induk dan pejatan, dan kelinci afkir.
Kemudian industri berbasis kelinci seperti produk abon, dendeng, bakso, sosis, atau nugget. juga industri fashion seperti tas, topi, dan jaket. bahkan kotoran dan urin pun bisa dijual sebagai pupuk tanaman. Harga pupuk yang berasal dari kotoran kelinci mencapai Rp 7500 per kg sedangkan urinnya Rp 5000 per liter.
Harga per lembar kulit kelinci rex berbulu prima ukuran 36 x 42 cm saja, jika sudah disamak mencapai US$ 18 atau sekitar Rp 215 ribu. Dan untuk membuat satu buah jaket mantel, dibutuhkan 35 helai kulit kelinci.
Pasar utama kulit-bulu mentah adalah Hong Kong, China, Taiwan, dan Korea. Sedangkan pasar produk akhir adalah Jepang, Amerika, kulit-bulu tersebut digunakan untuk membuat mantel bulu eksotis yang mempunyai nilai tambah mancapai US$ 800 - 3.000.

Baca selengkapnya: http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=47084

Minggu, Februari 01, 2015

Mudahnya Beternak Ayam KUB

Puslitbang Peternakan menyiarkan cara beternak ayam kampung melalui radio RRI Bogor dalam acara Siaran Pedesaan dengan judul "Mudahnya Beternak Ayam Kampung" pada tanggal 25 Januari 2015 oleh Dr. Tike Sartika jam 19.30-20.00 WIB. Dr. Tike Sartika menyampaikan bahwa Ayam Kampung Unggulan Badan Litbang Pertanian disingkat ayam KUB, adalah hasil seleksi ayam kampung selama 6 generasi yang diarahkan untuk meningkatkan produksi telurnya dan mengurangi sifat mengeramnya.
Ayam kampung biasanya bertelur 50 sampai 75 butir per tahun, sedangkan ayam KUB dapat bertelur hingga 180 butir per tahun. Karena Telurnya banyak sehingga ayam KUB ditujukan sebagai bibit induk untuk menghasilkan DOC (anak ayam umur 1 hari).
Untuk usaha pembesaran ayam kampung potong dapat dipanen pada umur 70 hari dengan bobot potong 0,9-1 kg. Untuk mendapatkan DOC yang tumbuhnya cepat ayam KUB harus dikawinkan dengan pejantan ayam kampung pilihan yang mempunyai bobot badan besar.

 Infomasi selengkapnya: http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=47087

Jumat, Januari 30, 2015

Pemerintah Pusat bertekad untuk mewujudkan swasembada pangan khususnya padi, jagung dan kedelai pada tahun 2017. Tekad tsb. diwujudkan dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No 1243/Kpts/OT.160/12/2014, tanggal 5 Desember 2014, tentang Kelompok Kerja Upaya Khusus(UPSUS) Peningkatan Produksi, Padi, Jagung dan Kedelai melalui Program Perbaikan Jaringan Irigasi Dan Sarana Pendukungnya. Sebagai tindak lanjut dari program tsb. Puslitbang Peternakan melakukan kunjungan kerja  ke Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Bali pada tanggal 13-16 Januari 2015.
Pada kunjungan kerja ini  Kapuslitbangnak Dr. Bess Tiesnamuti sebagai PJ Tim Supervisi UPSUS PJK Propinsi NTT melakukan rapat koordinasi yang dihadiri oleh, Pejabat eselon IV dari Direktur Budidaya dan Pasca Panen Hortikultura, Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan Kupang – NTT (BPPSDMP) dan staf, Kepala BPTP NTT dan Peneliti BPTP NTT, dan Petugas Pendamping (LO) dari Ditjen PSP.


Informasi selengkapnya: http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=47085

Kamis, Januari 29, 2015

Kambing Boerka Berkualitas Ekspor

Kambing Boerka berpotensi untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor yang menuntut spesifikasi bobot tubuh yang sulit dicapai oleh kambing lokal. Ya, Kambing Boerka memiliki kapasitas bobot tubuh yang menggiurkan karena dapat mencapai 35kg pada umur 1 tahun. Bandingkan dengan kambing kacang, penggemukan dalam waktu yang sama hanya menghasilkan bobot 13-15%kg per ekor dengan persentase karkas 45-50%. Tidak itu saja, reproduktivitas  Kambing Boerka juga cukup tinggi, dengan jumlah anak per kelahiran 1,6-1,7 ekor per induk makin menambah peluang ekonomis dalam pengembangan. Kelebihan lainnya, jenis kambing ini mudah beradaptasi dengan kondisi iklim tropis-basah dindinesia
Menurut penelitian, Kambing Boerka merupakan hasil persilangan antara Kambing Boer dan Kambing Lokal, yang menghasilkan gabungan potensi reproduksi dengan kapasitas bobot tubuh. Reproduksitivitas yang tinggi berasal dari Kambing Lokal (kambing kacang) dengan kapasitas bobot tubuh yang relatif rendah.

Baca selengkapnya :  http://peternakan.litbang.pertanian.go.id