Kandang Kelompok

Kandang Kelompok ”Model Grati” merupakan model perkandangan yang dirancang dengan memperhatikan dalam satu ruang kandang ditempatkan beberapa ekor sapi induk/calon induk.

Ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Badan Litbang Pertanian)

Bobot badan : 1.200 -1.600 gram, Bobot telur : 35-45 gram, Umur pertama bertelur lebih awal (20 - 22 minggu),Produktivitas telur lebih tinggi (130 -160 butir/ekor/tahun, Produksi telur (henday) : 50 %, Puncak produksi telur : 65 %,Lebih tahan terhadap penyakit

Rabu, Juni 10, 2015

Tepung Daun Murbei sebagai Pakan Suplemen untuk Kambing


Tanaman murbei (Morus spp.) merupakan tanaman leguminosa yang beradaptasi baik pada berbagai kondisi iklim dan egroekosistem yang beragam. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis dan sub tropis dan telah lama digunakan dalam pertanian sericulture. Penggunaan tanaman murbei sebagai pakan telah diteliti pada beberapa spesies ternak ruminansia, seperti sapi (perah dan potong), kambing dan domba di berbagai negara. Di Indonesia, diperkirakan terdapat paling tidak tujuh spesies murbei, namun potensi pemanfaatannya sebagai pakan ternak belum diteliti secara lebih mendalam dan penggunaan di lapangan oleh peternak belum dilakukan. Penelitian telah dilakukan untuk mengeksplorasi potensi nutrisi dan teknologi pemanfaatan beberapa spesies murbei sebagai pakan kambing.
Dari empat spesies tanaman murbei yang telah diteliti yaitu Morus nigra, Morus kanva, Morus multicaulis dan Morus chatayana disimpulkan bahwa keempat spesies murbei ini dapat digunakan sebagai pakan suplemen terutama sumber protein (kandungan protein 16-25%). Jika diberikan dalam bentuk segara maka spesies M. multicaulis memiliki karakter palatabilitas paling tinggi dibanding ketiga spesies lainnya. Hal ini menunjukan potensi konsumsi yang lebih tinggi dibanding ketiga spesies lainnya.
Namun, keempat spesies murbei tersebut relatif mudah dicerna oleh kambing yaitu dengan tingkat kecernaan bahan kering antara 60-65%. Dengan demikian tanaman murbei dapat diberikan dalam bentuk segar sebagai pakan suplemen (pakan tambahan) untuk melengkapi kandungan nutrisi yang terdapat pada pakan dasar. Oleh karena produksi daun tanaman murbei menurun drastis selama musim kemarau, maka perlu dilakukan pengolahan daun terutama selama musim basah saat produksi lebih tinggi. Dengan teknologi pengolahan, maka produksi hijauan yang melimpah pada musim hujan dapat digunakan selama musim kering. Teknologi ini akan lebih menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun.
Proses pengolahan daun murbei segar menjadi tepung daun adalah teknologi sederhana yang mudah diterapkan oleh peternak. Pengolahan hanya membutuhkan proses pengeringan (penjemuran) dan penggilingan (penepungan). Daun murbei yang telah dikeringkan (dianginkan) selama 2-3 hari kemudian digiling menjadi tepung dengan partikel kasar, lalu disimpan dalam tempat yang kering untuk digunakan pada waktu yang diperlukan. Penggunaan tepung murbei dapat dilakukan baik dengan mencampur secara langsung dengan pakan dasar atau diberikan pada tempat terpisah dengan pakan dasar. Tingkat penggunaan murbei tergantung kepada ketersediaan bahan. Oleh karena itu, tepung ini dapat diberikan dalam jumlah tidak terbatas sesuai kemampuan ternak mengkonsumsi (ad libitum). Apabila ketersediaan bahan terbatas, penggunaannya berkisar antara 0,5- 1,0% berat badan.

Puslitbangnak

Selasa, Juni 09, 2015

Pemanfaatan Pucuk Tebu untuk Pakan Ternak Domba

Tebu atau sugarcane merupakan bagian limbah terbesar dari industri/perkebunan tebu  yaitu berupa sisa tanaman setelah bagain batang di panen untuk diproses menjadi gula. Dari unsur ketersediaan, potensinya sangat baik untuk pakan.

Ketersediaannya musiman sehingga mengharuskan adanya proses pengawetan agar dapat digunakan sepanjang tahun. Penggunaan pucuk tebu untuk sapi sudah banyak dilakukan, namun penggunaannya untuk domba atau kambing masih terbatas.

Penelitian dilakukan dengan tujuan membuat  ransum domba berbahan pucuk tebu dan melihat dampaknya terhadap pertumbuhan dan kualitas karkas domba. Dua puluh empat ekor domba dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan pakan, yaitu:
  • PT (pucuk tebu+konsentrat)
  • PT+PA (pucuk tebu+pakan aditif)
  • PTS (silase pucuk tebu) dan
  • PTS+PA (silase pucuk tebu+pakan aditif).

Pakan aditif yang diberikan adalah campuran mineral, vitamin dan mikroba dari bioplus. Pengamatan selama 14 minggu dilakukan terhadap konsumsi dan kecernaan pakan, pertambahan bobot badan ternak, FCR (feed conversion ratio), kualitas karkas dan uji kecernaan secara in vitro.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian pakan aditif dapat meningkatkan konsumsi bahan kering pakan pada kelompok PTS+PA, namun dampak pakan aditif tidak terlihat pada kelompok PT+PA. Pakan aditif memberikan respon lebih baik pada kelompok yang diberi silase pucuk tebu 16,8%, dibandingkan dengan yang diberi pucuk tebu tanpa silase 4%.

Disimpulkan bahwa pakan aditif tidak berindikasi menaikkan konsumsi pakan, ensilage (produk bioproses) belum mempengaruhi konsumsi, kecernaan dan FCR. Direkomendasikan untuk menggunakan pucuk tebu sebagai ransum peggemukan domba di areal perkebunan tebu.

Puslitbangnak

Senin, Juni 08, 2015

Teknologi Budidaya Rumput Gajah Kerdil di Provinsi Sumatera Utara

Rumput gajah kerdil (Pennisetum purpureum cv Mott) merupakan salah satu tanaman yang dikenal cocok untuk pakan ternak ruminansia besar maupun kecil. Hal ini dikarenakan rasio daun atau batang yang tinggi, nilai nutrisi yang sedang, tahan terhadap kekeringan, dan cocok untuk penggembalaan. Berdasarkan beberapa keunggulan tersebut, pengembangan budidaya rumput gajah kerdil diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk menjamin ketersediaan hijauan.
Penelitian dilakukan dengan pendekatan agronomis melalui penanaman rumput gajah kerdil di dua agroekosistem berbeda (dataran rendah beriklim basah yaitu Sei Putih dan dataran tinggi beriklim sedang yaitu Siborong-borong). Luas masing-masing lokasi penanaman adalah 1.500 m2. Terdapat 30 petak percobaan dengan luasan 100 m2 tiap petak.  Ada tiga perlakuan jarak tanam, yakni 50x100 cm (JT1); 75x100 cm (JT2) dan 100x100 cm (JT3).
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rumput gajah kerdil di Sei Putih relatif lebih pendek dengan daun lebih lebar dan jumlah anakan yang lebih sedikit dibandingkan rumput gajah kerdil yang ditanam di Siborong-borong, Tapanuli Utara. Produksi segar tajuk rumput gajah kerdil yang ditanam di Sei Putih pada pemanenan akhir bulan Oktober 2013 adalah 2,2-3,2 kg/tanaman/panen. Jumlah ini jauh lebih tinggi daripada pemanenan akhir di Siborong-borong, yaitu 1,1-1,6 kg/tanaman/panen. Jarak tanam mempengaruhi produksi segar per tanaman per panen. Produksi segar per tanaman pada JT1 lebih rendah dibandingkan dengan dua perlakuan lainnya (JT2 dan JT3). Namun, dengan jarak tanam yang lebih rapat, jumlah tanaman pada perlakuan JT1 lebih banyak dibandingkan dengan JT2 dan JT3, sehingga ketika dikonversi ke produksi per plot maupun per hektar, produksi segar tajuk pada JT1 lebih tinggi dibanding JT2 dan JT3. Hasil analisis kimiawi menunjukkan nilai nutrisi rumput gajah kerdil (RGK) yang ditanam di Siborong-borong lebih baik dibandingkan yang di Sei Putih. Kandungan protein kasar RGK di Siborong-borong (17-19%) lebih tinggi dibanding RGK di Sei Putih (11-14%). Hal ini disebabkan RGK di Siborong-borong mengalami gangguan pada awal pertumbuhan dan relatif lebih muda dibanding RGK Sei Putih saat analisis dilakukan.

Puslitbangnak

Jumat, Juni 05, 2015

Potensi Tanaman Pulai Sebagai Pakan Ternak

Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati termasuk spesies tanaman yang dapat digunakan sebagai obat/tanaman obat; salah satunya adalah tanaman pulai (Alstonia scholaris [L.] R. Br.) yang dikenal dengan nama umum kayu gabus. Pulai yang termasuk suku kamboja-kambojaan, tersebar di seluruh Nusantara. Di Jawa pulai tumbuh di hutan jati, hutan campuran dan hutan kecil di pedesaan, ditemukan dari dataran rendah sampai 900 m dpl. Pulai kadang ditanam di pekarangan dekat pagar atau ditanam sebagai pohon hias. Tanaman pulai ini banyak dikembangkan oleh Badan Litbang Kehutanan.

Pemanfaatan tanaman ini beranekaragam, baik sebagai bahan untuk pembuatan furniture maupun untuk obat-obatan. Beberapa penyakit yang dapat diobati dengan menggunakan tanaman pulai adalah: demam, malaria, limpa membesar, batuk berdahak, diare, disentri, kurang nafsu makan, perut kembung, sakit perut, kolik, anemia, kencing manis (diabetes melitus), wasir, gangguan haid, bisul, tekanan darah tinggi (Hipertensi), rematik akut, borok (ulcer), beri-beri, masa nifas, dan payudara bengkak karena ASI.

Beberapa kalangan menyebutkan bahwa tanaman pulai juga dapat dimanfaatkan untuk pengobatan penyakit scabies pada ternak kambing. Salah satu faktor yang penting dalam peningkatan produksi ternak terutama ternak kambing adalah penyediaan tanaman pakan ternak yang berkualitas secara kontinu serta berkelanjutan. Salah satu cara penyediaan tanaman pulai secara kontinu adalah melalui budidaya tanaman tersebut. Budidaya tanaman pulai dapat dilakukan baik secara generatif maupun vegetatif. Penyediaan bibit berkualitas secara generatif  masih terhambat karena belum adanya sumber benih yang sudah diuji. Oleh karena itu bibit dapat diperoleh dari pohon induk. Teknik ini sangat penting karena akan mempertahankan genotif jenis-jenis pohon yang melakukan penyerbukan silang dan berdaur panjang. Teknik pembiakan vegetatif pulai dapat dilakukan dengan cara stek cabang dan stek pucuk, Tingkat keberhasilan stek pucuk dapat mencapai 89%.
Di Indonesia pulai (Alstonia scholaris) biasanya berbunga dan berbuah antara bulan Mei sampai Agustus. Pulai berbiji sangat banyak rata-rata tiap kilogram biji kering berisi 500.000 butir.

Produksi segar tanaman Pulai (Alstonia scholaris) per panen yang diperoleh pada intensitas pemotongan 120 cm dan interval panen 90 hari dengan jarak tanam 2 meter x 3 meter, yakni sebanyak 4,83 kg/phn/panen, atau menghasilkan sebanyak 32,34 ton/ha/tahun. Proporsi daun dibandingkan dengan batang pada tanaman pulai relatif bagus yakni 0,42. Proporsi daun ini penting diketahui, sebab umumnya bagian tanaman yang dikonsumsi ternak dan lebih palatabel (disukai) adalah daun. Disamping itu kandungan nutrien daun lebih baik dibanding batang. Daun merupakan bagian tanaman tempat berlangsungnya proses fotosintesis maupun sintesa protein.

Kualitas hijauan pakan ternak tanaman pulai ditunjukan dengan kandungan nutrisi yang terdapat dalam hijauan tersebut yang dapat dimanfaatkan oleh ternak. Kandungan protein kasar, serat deterjen netral dan serat deterjen asam tanaman pulai berturut-turut sebesar 18%, 25%, dan 17%. Kandungan bahan organik tanaman pulai dalam penelitian ini berkisar antara 91-92% setara dengan kandungan bahan organik pada G.sepium 87-91% dan S. sesban 89-90% yang dipotong pada umur 6 minggu. Terlihat dari kualitas yang dimiliki, tanaman pulai (Alstonia scholaris) sangat berpotensi sebagai sumber pakan ternak, serta merupakan alternatif sumber protein murah untuk peningkatan produktivitas ternak ruminansia.

Kandungan tanin pada tanaman pulai mencapai 0,67%, tanin terkondensasi (condensed tanin) 0,009% dan saponin 1,92%. Komponen sekunder pada tanaman pulai relatif rendah, sehingga diharapkan ternak yang mengkonsumsi tanaman ini tidak akan mengalami ganggguan dalam pertumbuhannya.

Puslitbangnak

Kamis, April 09, 2015

Tepung Lerak Sebagai Pakan Aditif Gantikan Salinomisin Pada Ayam Broiler

Salah satu penyakit yang sering terjadi pada unggas yang banyak menimbulkan kerugian industri unggas dan peternak ayam adalah koksidiosis yang disebabkan oleh parasit genus Eimeria spp. Terdapat tujuh genus penyebab koksidiosis pada unggas, dan yang paling patogen adalah E. tenella. Industri unggas di US membutuhkan biaya untuk menangani koksidiosis sekitar $127 juta per tahun.

Upaya untuk mencegah koksidiosis dilakukan dengan menggunakan koksidiostat seperti salinomisin, amprolium dan dekokuinat. Penggunaan yang terus menerus dikuatirkan akan meninggalkan residu pada daging, menyebabkan resistensi koksidia terhadap antikoksidial, oleh sebab itu perlu dihentikan. Salah satu tanaman yang memiliki potensi menghambat pertumbuhan protozoa adalah Sapindus rarak (lerak) karena adanya kandungan senyawa sekunder saponin.  Saponin dilaporkan memiliki beberapa sifat biologis seperti anti karsinogenik, menstimulasi kekebalan, hemolitik, anti-inflamasi, dan menurunkan kolesterol (hipokolesteromik). Selain itu, saponin menunjukkan sifat antimikroba, terutama terhadap jamur dan protozoa, termasuk protozoa dalam rumen. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pemberian Tepung lerak halus dengan ukuran partikel 75 µm pada level 1,25 g/kg dapat digunakan sebagai pakan aditif  dan dapat menggantikan salinomisin sebagai antikoksidia.
Sumber: JITV Volume 19 Nomor 4 Tahun 2014  (DOI: http://dx.doi.org/10.14334/jitv.v19i4.1099)

http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=47569

Selasa, April 07, 2015

Cocopet bahan pakan alternatif untuk Itik Pedaging

Salah satu upaya yang dapat dilakukan  untuk menekan biaya pakan unggas cenderung mahal yaitu dengan  pemanfaatan limbah agro industri sebagai alternatif bahan pakan, mengingat hasil ikutan yang dihasilkan dari sektor pertanian maupun perkebunan di Indonesia cukup melimpah. Salah satu limbah (hasil ikutan) dari sektor pertanian maupun perkebunan yang memiliki potensi besar dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber serat maupun energi untuk ternak unggas adalah cocopeat/coir dust/coir pith.
Cocopeat berasal dari limbah buah kelapa berupa serbuk serabut, bentuknya halus dihasilkan dari proses penghancuran serabut kelapa. Dalam proses penghancuran sabut kelapa dihasilkan serat yang lebih dikenal fiber, serta serbuk halus sabut yang dihasilkan tersebut disebut cocopeat.
Cocopeat mengandung serat kasar tinggi, dalam peranannya sebagai zat makanan bagi ternak, serat kasar dapat berfungsi sebagai sumber energi.
Salah satu kelebihan ternak itik dibandingkan dengan ayam adalah kemampuan untuk mencerna serat kasar dalam pakan. Kemampuan untuk mencerna serat kasar tersebut dapat memberi peluang sekaligus kemudahan bagi peternak untuk memanfaatkan limbah  bidang pertanian maupun perkebunan sebagai sumber serat pakan itik.
Berdasarkan hasil penelitian  batas penggunaan yang aman dan tidak sampai mengganggu pertumbuhan itik. Pemberian serat kasar tinggi (6 dan 9%) dengan kandungan protein pakan (19 dan 21%) masih dapat diterima terhadap respon pertumbuhan, produksi karkas dan mengurangi kandungan lemak abdominal pada itik pedaging umur 12 minggu. Pengaruh perbedaan kandungan serat kasar tidak tergantung pada kandungan protein dalam pakan jika dilihat dari pertumbuhan dan produksi karkas.
Sumber: JITV Volume 19 Nomor 3  Tahun 2014 (DOI: http://dx.doi.org/10.14334/JITV.V19I3.1085)

http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=47568:cocopet-bahan-pakan-alternatif-untuk-itik-pedaging&catid=14:info-teknologi&Itemid=23