Kandang Kelompok

Kandang Kelompok ”Model Grati” merupakan model perkandangan yang dirancang dengan memperhatikan dalam satu ruang kandang ditempatkan beberapa ekor sapi induk/calon induk.

Ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Badan Litbang Pertanian)

Bobot badan : 1.200 -1.600 gram, Bobot telur : 35-45 gram, Umur pertama bertelur lebih awal (20 - 22 minggu),Produktivitas telur lebih tinggi (130 -160 butir/ekor/tahun, Produksi telur (henday) : 50 %, Puncak produksi telur : 65 %,Lebih tahan terhadap penyakit

Jumat, Juni 12, 2015

Penguatan FELISAVET untuk Deteksi Penyakit Brucellosis pada Sapi


Brucellosis adalah penyakit zoonosis yang sering menyerang pada sapi, disebabkan oleh bakteri Brucella abortus dan merupakan spesies yang pathogen. Brucellosis pada sapi mudah menyebar secara cepat pada kelompok ternak yang tidak divaksinasi dan 80% sapi pada kebuntingan akhir dapat terjadi abortus.
Kejadian Brucellosis pada sapi telah menyebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia kecuali Pulau Bali dan Lombok yang baru dinyatakan bebas Brucellosis pada tahun 2002 dengan angka prevalensi bervariasi dari 1% hingga 40%. Spesies Brucella yang menginfeksi sapi-sapi di Indonesia adalah strain B. abortus biotipe 1 yang merupakan isolat lokal paling patogen sehingga mampu menimbulkan keguguran dan infeksi yang meluas pada organ dan jaringan tubuh sapi.
Program pengendalian dan pemberantasan Brucellosis pada sapi telah dilakukan oleh pemerintah melalui program vaksinasi dan potong bersyarat (test and slaughter) namun penyebaran penyakit ini dari tahun ke tahun semakin meningkat. Meningkatnya penyebaran Brucellosis pada sapi ini dapat dikarenakan adanya mutasi ternak yang kurang dapat dipantau oleh petugas peternakan, biaya kompensasi pengganti sapi reaktor positif sangat mahal dan kurangnya kesadaran dan pengetahuan peternak.
Oleh karena itu, Brucellosis menjadi salah satu prioritas nasional untuk dilakukan pencegahan, pengendalian dan pemberantasannya, karena dampak kerugian ekonomi yang ditimbulkannya sangat besar akibat tingginya angka keguguran, lahir mati, lahir lemah, infertilitas dan sterilitas pada sapi. Mengingat pentingnya penyakit tersebut deteksi cepat dalam rangka skreening penyakit reproduksi khususnya pada sapi dan kerbau sangat perlu dilakukan sejak dini.
Hal demikian dapat terwujud apabila terdapat perangkat diagnostik uji cepat yang akurat dan mampu mendeteksi beberapa penyakit reproduksi sekaligus sehingga terjadi efisiensi waktu. Salah satu perangkat diagnostik yang diharapkan mampu menjalankan tujuan tersebut adalah teknologi diagnosa Field ELISA (FELISAVET) yang telah dikembangkan oleh BB Litvet. FELISAVET merupakan teknik uji cepat yang berbasis ELISA yang dimodifikasi agar bisa diterapkan di lapangan. Keunggulan teknologi ini adalah dapat mendeteksi beberapa jenis penyakit dalam satu sampel, mudah diaplikasikan di lapangan dan hasilnya dapat segera diketahui yaitu hanya dalam waktu 25 menit.
Mengingat keunggulan teknologi tersebut, FELISAVET dapat digunakan untuk mendeteksi secara cepat penyakit Brucellosis di lapangan yaitu untuk skrining tes agar bisa dilakukan tindakan-tindakan penanganan lebih lanjut secara lebih cepat. Namun demikian inovasi teknologi diagnosa FELISAVET masih perlu dilakukan validasi terlebih dahulu. Validasi diperlukan agar aplikasi di lapang dapat lebih terjamin akurasinya. Validasi FELISAVET Brucella telah dilakukan dengan melakukan Validasi Uji dengan menggunakan serum kontrol positif dan negatif untuk uji Spesifisitas dan Sensitivitas, serta Validasi Komparatif dengan menggunakan kit komersial sebagai pembanding untuk Agreement Assay. Validasi kit FELISA untuk diagnosis brucelosis telah dapat dilaksanakan dan hasilnya sesuai harapan dengan tingkat akurasi uji 97,92-98,75%. Hasil uji FELISA juga memiliki kesesuaian uji yang sangat baik (k = 0,96-0,97) dalam diagnosis brucelosis dibandingkan RBT-CFT-ELISA

Puslitbagnak

Kamis, Juni 11, 2015

Prototipe Vaksin ND Genotipe VII Efektif dalam Mengendalikan Penyakit ND Generasi Baru


New Castle Disease (ND) merupakan penyakit yang sangat kontangius dan termasuk dalam satu dari penyakit penting pada unggas di dunia. Infeksi berlangsung secara cepat dan bisa menyebabkan kematian secara mendadak dengan mortalitas yang tinggi. Di Indonesia, penyakit ND pada tahun terakhir ini menunjukkan gejala yang sedikit berbeda dengan gejala penyakit ini sebelumnya. Gejalanya biasanya hanya menurunkan produksi telur, namun penurunannya sampai drastis dan tidak dapat mencapai puncak produksi. Seed vaksin yang digunakan biasanya adalah Lasota atau B1 (Lentogenik) terkadang kumarov (Mesogenik) dan beberapa dari isolat lokal Indonesia yang termasuk virus ND ganas (Velogenik). Meskipun vaksinasi diaplikasikan secara intensif, penyakit ND masih menyebabkan masalah bagi peternak. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan prototipe vaksin ND genotipe VII yang diperoleh pada penelitian tahun sebelumnya yaitu Chicken/Indonesia/GTT/11 sehingga dapat digunakan untuk menyediakan seed virus ND genotype VII yang sangat dibutuhkan oleh peternak.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah menformulasi vaksin dan melakukan vaksinasi pada ayam umur 3 minggu pada kelompok ayam yang divaksin dengan vaksin genotipe VII (Chicken/Indonesia/GTT/11) yang dibandingkan dengan vaksin genotipe VII komersial dan vaksin ND bukan GVII, dan kemudian ditantang dengan virus tantang Chicken/Indonesia/ GTT/11. Pengamatan dilakukan dengan mengukur titer antibody sebelum dan setelah vaksinasi, serta memeriksa adanya sheeding virus pasca tantang. Selain itu juga dilakukan identifikasi virus ND yang bersirkulasi di lapang dengan menggunakan metode RTPCR.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sirkulasi virus ND masih dapat dideteksi pada peternakan ayam yang melakukan vaksinasi ND. Vaksin ND generasi baru BB Litvet yang mengandung seed vaksin ND G7 chicken/Indonesia GTT/11 mempunyai respons pasca vaksinasi yang sangat baik, dengan rataan titer 7,3 log2 dan mampu memberikan perlindungan 100% pada ayam yang divaksinasi dari penyakit klinis, kematian, serta sheeding terhadap virus tantang.

Puslitbangnak

Rabu, Juni 10, 2015

Tepung Daun Murbei sebagai Pakan Suplemen untuk Kambing


Tanaman murbei (Morus spp.) merupakan tanaman leguminosa yang beradaptasi baik pada berbagai kondisi iklim dan egroekosistem yang beragam. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis dan sub tropis dan telah lama digunakan dalam pertanian sericulture. Penggunaan tanaman murbei sebagai pakan telah diteliti pada beberapa spesies ternak ruminansia, seperti sapi (perah dan potong), kambing dan domba di berbagai negara. Di Indonesia, diperkirakan terdapat paling tidak tujuh spesies murbei, namun potensi pemanfaatannya sebagai pakan ternak belum diteliti secara lebih mendalam dan penggunaan di lapangan oleh peternak belum dilakukan. Penelitian telah dilakukan untuk mengeksplorasi potensi nutrisi dan teknologi pemanfaatan beberapa spesies murbei sebagai pakan kambing.
Dari empat spesies tanaman murbei yang telah diteliti yaitu Morus nigra, Morus kanva, Morus multicaulis dan Morus chatayana disimpulkan bahwa keempat spesies murbei ini dapat digunakan sebagai pakan suplemen terutama sumber protein (kandungan protein 16-25%). Jika diberikan dalam bentuk segara maka spesies M. multicaulis memiliki karakter palatabilitas paling tinggi dibanding ketiga spesies lainnya. Hal ini menunjukan potensi konsumsi yang lebih tinggi dibanding ketiga spesies lainnya.
Namun, keempat spesies murbei tersebut relatif mudah dicerna oleh kambing yaitu dengan tingkat kecernaan bahan kering antara 60-65%. Dengan demikian tanaman murbei dapat diberikan dalam bentuk segar sebagai pakan suplemen (pakan tambahan) untuk melengkapi kandungan nutrisi yang terdapat pada pakan dasar. Oleh karena produksi daun tanaman murbei menurun drastis selama musim kemarau, maka perlu dilakukan pengolahan daun terutama selama musim basah saat produksi lebih tinggi. Dengan teknologi pengolahan, maka produksi hijauan yang melimpah pada musim hujan dapat digunakan selama musim kering. Teknologi ini akan lebih menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun.
Proses pengolahan daun murbei segar menjadi tepung daun adalah teknologi sederhana yang mudah diterapkan oleh peternak. Pengolahan hanya membutuhkan proses pengeringan (penjemuran) dan penggilingan (penepungan). Daun murbei yang telah dikeringkan (dianginkan) selama 2-3 hari kemudian digiling menjadi tepung dengan partikel kasar, lalu disimpan dalam tempat yang kering untuk digunakan pada waktu yang diperlukan. Penggunaan tepung murbei dapat dilakukan baik dengan mencampur secara langsung dengan pakan dasar atau diberikan pada tempat terpisah dengan pakan dasar. Tingkat penggunaan murbei tergantung kepada ketersediaan bahan. Oleh karena itu, tepung ini dapat diberikan dalam jumlah tidak terbatas sesuai kemampuan ternak mengkonsumsi (ad libitum). Apabila ketersediaan bahan terbatas, penggunaannya berkisar antara 0,5- 1,0% berat badan.

Puslitbangnak

Selasa, Juni 09, 2015

Pemanfaatan Pucuk Tebu untuk Pakan Ternak Domba

Tebu atau sugarcane merupakan bagian limbah terbesar dari industri/perkebunan tebu  yaitu berupa sisa tanaman setelah bagain batang di panen untuk diproses menjadi gula. Dari unsur ketersediaan, potensinya sangat baik untuk pakan.

Ketersediaannya musiman sehingga mengharuskan adanya proses pengawetan agar dapat digunakan sepanjang tahun. Penggunaan pucuk tebu untuk sapi sudah banyak dilakukan, namun penggunaannya untuk domba atau kambing masih terbatas.

Penelitian dilakukan dengan tujuan membuat  ransum domba berbahan pucuk tebu dan melihat dampaknya terhadap pertumbuhan dan kualitas karkas domba. Dua puluh empat ekor domba dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan pakan, yaitu:
  • PT (pucuk tebu+konsentrat)
  • PT+PA (pucuk tebu+pakan aditif)
  • PTS (silase pucuk tebu) dan
  • PTS+PA (silase pucuk tebu+pakan aditif).

Pakan aditif yang diberikan adalah campuran mineral, vitamin dan mikroba dari bioplus. Pengamatan selama 14 minggu dilakukan terhadap konsumsi dan kecernaan pakan, pertambahan bobot badan ternak, FCR (feed conversion ratio), kualitas karkas dan uji kecernaan secara in vitro.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian pakan aditif dapat meningkatkan konsumsi bahan kering pakan pada kelompok PTS+PA, namun dampak pakan aditif tidak terlihat pada kelompok PT+PA. Pakan aditif memberikan respon lebih baik pada kelompok yang diberi silase pucuk tebu 16,8%, dibandingkan dengan yang diberi pucuk tebu tanpa silase 4%.

Disimpulkan bahwa pakan aditif tidak berindikasi menaikkan konsumsi pakan, ensilage (produk bioproses) belum mempengaruhi konsumsi, kecernaan dan FCR. Direkomendasikan untuk menggunakan pucuk tebu sebagai ransum peggemukan domba di areal perkebunan tebu.

Puslitbangnak

Senin, Juni 08, 2015

Teknologi Budidaya Rumput Gajah Kerdil di Provinsi Sumatera Utara

Rumput gajah kerdil (Pennisetum purpureum cv Mott) merupakan salah satu tanaman yang dikenal cocok untuk pakan ternak ruminansia besar maupun kecil. Hal ini dikarenakan rasio daun atau batang yang tinggi, nilai nutrisi yang sedang, tahan terhadap kekeringan, dan cocok untuk penggembalaan. Berdasarkan beberapa keunggulan tersebut, pengembangan budidaya rumput gajah kerdil diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk menjamin ketersediaan hijauan.
Penelitian dilakukan dengan pendekatan agronomis melalui penanaman rumput gajah kerdil di dua agroekosistem berbeda (dataran rendah beriklim basah yaitu Sei Putih dan dataran tinggi beriklim sedang yaitu Siborong-borong). Luas masing-masing lokasi penanaman adalah 1.500 m2. Terdapat 30 petak percobaan dengan luasan 100 m2 tiap petak.  Ada tiga perlakuan jarak tanam, yakni 50x100 cm (JT1); 75x100 cm (JT2) dan 100x100 cm (JT3).
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rumput gajah kerdil di Sei Putih relatif lebih pendek dengan daun lebih lebar dan jumlah anakan yang lebih sedikit dibandingkan rumput gajah kerdil yang ditanam di Siborong-borong, Tapanuli Utara. Produksi segar tajuk rumput gajah kerdil yang ditanam di Sei Putih pada pemanenan akhir bulan Oktober 2013 adalah 2,2-3,2 kg/tanaman/panen. Jumlah ini jauh lebih tinggi daripada pemanenan akhir di Siborong-borong, yaitu 1,1-1,6 kg/tanaman/panen. Jarak tanam mempengaruhi produksi segar per tanaman per panen. Produksi segar per tanaman pada JT1 lebih rendah dibandingkan dengan dua perlakuan lainnya (JT2 dan JT3). Namun, dengan jarak tanam yang lebih rapat, jumlah tanaman pada perlakuan JT1 lebih banyak dibandingkan dengan JT2 dan JT3, sehingga ketika dikonversi ke produksi per plot maupun per hektar, produksi segar tajuk pada JT1 lebih tinggi dibanding JT2 dan JT3. Hasil analisis kimiawi menunjukkan nilai nutrisi rumput gajah kerdil (RGK) yang ditanam di Siborong-borong lebih baik dibandingkan yang di Sei Putih. Kandungan protein kasar RGK di Siborong-borong (17-19%) lebih tinggi dibanding RGK di Sei Putih (11-14%). Hal ini disebabkan RGK di Siborong-borong mengalami gangguan pada awal pertumbuhan dan relatif lebih muda dibanding RGK Sei Putih saat analisis dilakukan.

Puslitbangnak

Jumat, Juni 05, 2015

Potensi Tanaman Pulai Sebagai Pakan Ternak

Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati termasuk spesies tanaman yang dapat digunakan sebagai obat/tanaman obat; salah satunya adalah tanaman pulai (Alstonia scholaris [L.] R. Br.) yang dikenal dengan nama umum kayu gabus. Pulai yang termasuk suku kamboja-kambojaan, tersebar di seluruh Nusantara. Di Jawa pulai tumbuh di hutan jati, hutan campuran dan hutan kecil di pedesaan, ditemukan dari dataran rendah sampai 900 m dpl. Pulai kadang ditanam di pekarangan dekat pagar atau ditanam sebagai pohon hias. Tanaman pulai ini banyak dikembangkan oleh Badan Litbang Kehutanan.

Pemanfaatan tanaman ini beranekaragam, baik sebagai bahan untuk pembuatan furniture maupun untuk obat-obatan. Beberapa penyakit yang dapat diobati dengan menggunakan tanaman pulai adalah: demam, malaria, limpa membesar, batuk berdahak, diare, disentri, kurang nafsu makan, perut kembung, sakit perut, kolik, anemia, kencing manis (diabetes melitus), wasir, gangguan haid, bisul, tekanan darah tinggi (Hipertensi), rematik akut, borok (ulcer), beri-beri, masa nifas, dan payudara bengkak karena ASI.

Beberapa kalangan menyebutkan bahwa tanaman pulai juga dapat dimanfaatkan untuk pengobatan penyakit scabies pada ternak kambing. Salah satu faktor yang penting dalam peningkatan produksi ternak terutama ternak kambing adalah penyediaan tanaman pakan ternak yang berkualitas secara kontinu serta berkelanjutan. Salah satu cara penyediaan tanaman pulai secara kontinu adalah melalui budidaya tanaman tersebut. Budidaya tanaman pulai dapat dilakukan baik secara generatif maupun vegetatif. Penyediaan bibit berkualitas secara generatif  masih terhambat karena belum adanya sumber benih yang sudah diuji. Oleh karena itu bibit dapat diperoleh dari pohon induk. Teknik ini sangat penting karena akan mempertahankan genotif jenis-jenis pohon yang melakukan penyerbukan silang dan berdaur panjang. Teknik pembiakan vegetatif pulai dapat dilakukan dengan cara stek cabang dan stek pucuk, Tingkat keberhasilan stek pucuk dapat mencapai 89%.
Di Indonesia pulai (Alstonia scholaris) biasanya berbunga dan berbuah antara bulan Mei sampai Agustus. Pulai berbiji sangat banyak rata-rata tiap kilogram biji kering berisi 500.000 butir.

Produksi segar tanaman Pulai (Alstonia scholaris) per panen yang diperoleh pada intensitas pemotongan 120 cm dan interval panen 90 hari dengan jarak tanam 2 meter x 3 meter, yakni sebanyak 4,83 kg/phn/panen, atau menghasilkan sebanyak 32,34 ton/ha/tahun. Proporsi daun dibandingkan dengan batang pada tanaman pulai relatif bagus yakni 0,42. Proporsi daun ini penting diketahui, sebab umumnya bagian tanaman yang dikonsumsi ternak dan lebih palatabel (disukai) adalah daun. Disamping itu kandungan nutrien daun lebih baik dibanding batang. Daun merupakan bagian tanaman tempat berlangsungnya proses fotosintesis maupun sintesa protein.

Kualitas hijauan pakan ternak tanaman pulai ditunjukan dengan kandungan nutrisi yang terdapat dalam hijauan tersebut yang dapat dimanfaatkan oleh ternak. Kandungan protein kasar, serat deterjen netral dan serat deterjen asam tanaman pulai berturut-turut sebesar 18%, 25%, dan 17%. Kandungan bahan organik tanaman pulai dalam penelitian ini berkisar antara 91-92% setara dengan kandungan bahan organik pada G.sepium 87-91% dan S. sesban 89-90% yang dipotong pada umur 6 minggu. Terlihat dari kualitas yang dimiliki, tanaman pulai (Alstonia scholaris) sangat berpotensi sebagai sumber pakan ternak, serta merupakan alternatif sumber protein murah untuk peningkatan produktivitas ternak ruminansia.

Kandungan tanin pada tanaman pulai mencapai 0,67%, tanin terkondensasi (condensed tanin) 0,009% dan saponin 1,92%. Komponen sekunder pada tanaman pulai relatif rendah, sehingga diharapkan ternak yang mengkonsumsi tanaman ini tidak akan mengalami ganggguan dalam pertumbuhannya.

Puslitbangnak