Kandang Kelompok

Kandang Kelompok ”Model Grati” merupakan model perkandangan yang dirancang dengan memperhatikan dalam satu ruang kandang ditempatkan beberapa ekor sapi induk/calon induk.

Ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Badan Litbang Pertanian)

Bobot badan : 1.200 -1.600 gram, Bobot telur : 35-45 gram, Umur pertama bertelur lebih awal (20 - 22 minggu),Produktivitas telur lebih tinggi (130 -160 butir/ekor/tahun, Produksi telur (henday) : 50 %, Puncak produksi telur : 65 %,Lebih tahan terhadap penyakit

Selasa, Juni 16, 2015

Pengelolaan dan Pemanfaatan Bibit Sapi Potong Bebas Penyakit Reproduksi


Sapi Peranakan Ongole (PO) merupakan salah satu sapi potong lokal yang tersebar luas hamper keseluruh sentra sapi potong di Indonesia, populasi terbesarnya berada di pulau Jawa terutama di Jawa Timur.

Permasalahan utama dan menjadi isu dalam pengembangan sapi PO adalah penurunan populasi dan produktivitas sapi PO akibat adanya pemotongan sapi betina produktif, persilangan dengan Bos taurus yang telah lama berlangsung dan terbatasnya pejantan yang berkualitas. Pembibitan sapi PO di beberapa wilayah menggunakan pejantan alam yang kualitasnya rendah karena belum ada pilihan untuk menggunakan pemacek yang baik. Untuk meningkatkan populasi dan produktivitas sapi PO, Lolitsapi telah melakukan perbanyakan bibit sumber sapi PO terseleksi melalui Unit Pengelolaan Bibit Unggul (UPBU) sapi potong. Populasi sapi PO terseleksi sampai dengan akhir tahun 2014 sebanyak 245 ekor bibit sumber sapi PO pada berbagai kondisi fisiologis yang terdiri atas sapi UPBU sebanyak 165 ekor dan sebanyak 80 ekor hasil dari kegiatan breeding tahun 2013 yang dihibahkan pada kegiatan UPBU.
Dalam upaya peningkatan kualitas genetik sapi PO yang ada di lapangan, Loka Penelitian Sapi Potong melakukan penyebaran sapi PO terseleksi ke beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tengah. Dalam upaya evaluasi pemanfaatan sapi PO terseleksi tersebut Loka Penelitan Sapi Potong melakukan monitoring evaluasi pemanfaatan pejantan di Probolinggo dan atau Pasuruan (Provinsi Jawa Timur); Kabupaten Semarang (Provinsi Jawa Tengah); Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa Barat); Kabupaten Bantul dan Sleman (Provinsi D.I. Yogyakarta); dan Kabupaten Panajam (Kalimantan Timur). Penyebaran pejantan sapi PO hasil seleksi Loka Penelitian Sapi Potong tahun 2014 (16 ekor), masih di bawah target yang ditetapkan yaitu 20 ekor.
Berdasarkan hasil monitoring pemanfaatan pejantan sapi PO hasil seleksi Lolitsapi telah dimanfaatkan sebagai pejantan pemacek (mengawini sapi betina) pada kelompok peternakan rakyat. Pemanfaatan pejantan sapi PO di Kab. Sleman (DI Yogyakarta) sebesar 55 ekor (12 bulan) dengan bobot lahir sebesar 25-30 kg, Kab Blora Jawa Tengah sebesar 23 ekor. Kelahiran pedet pada UPTD Pasuruan (tahun 2014) sebesar 32 ekor dengan bobot lahir 22-25 kg.

Puslitbangnak

Senin, Juni 15, 2015

Teknologi Unggulan Ayam Sentul F3

Bobot hidup pada umur 10 minggu adalah umur optimum yang diharapkan tidak merubah tekstur dan rasa daging ayam lokal.
Seleksi berdasarkan kriteria telah dilakukan selama tiga generasi. Ciri khas tampilan selain postur tubuh dan warna bulu, adalah bentuk jengger. Ada dua bentuk jengger yang muncul dalam populasi adalah bentuk jengger pea (kacang) dan single comb (kipas terbuka).Pada generasi ke tiga ini bentuk jengger didominasi dengan bentuk kacang (87,55% untuk jantan dan 91,79% pada yang betina).
Sesuai dengan tujuan seleksi, kinerja pertumbuhan sampai dengan umur 10 minggu yang meliput bobot hidup, konsumsi ransum, dan efisiensi penggunaan ransum (FCR= feed conversion ratio).
Bobot hidup pada umur 10 minggu adalah umur optimum yang diharapkan tidak mengubah tekstur dan rasa daging ayam lokal yang sementara disukai konsumen daging ayam lokal dengan bobot tubuh antara 700–1000 g/ekor sebagai bobot potong yang disukai konsumen khusus sebagai bobot potong yang cocok untuk potongan karkas sajian meja.
Pemeliharaan ayam Sentul F3 tersebut dilakukan secara intensif penuh dalam kandang koloni kawat dan di kandang koloni beralas lantai dengan litter sekam. Kualitas ransum yang diberikan sejak umur 0-10 minggu adalah 17% protein kasar dengan 2800 kkal energi termetabolis/kg.

Puslitbangnak

Minggu, Juni 14, 2015

Deteksi Brucella abortus pada Semen dengan Molekular PCR



Penyimpanan semen beku mempunyai keuntungan untuk penyimpanan semen dalam waktu lama namun memiliki kelemahan dapat menjadi sarana penyebaran beberapa mikroba patogen.

Salah satu agen yang dapat ditularkan melalui semen adalah Brucella abortus yang dapat mengakibatkan orchitis, visiculitis dan epididymitis pada hewan jantan. Brucellosis pada sapi umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas sehingga dapat bertindak sebagai hewan carrier.
Infeksi Brucella melalui inseminasi buatan (IB) dengan semen yang terkontaminasi lebih sering terjadi dibandingkan melalui perkawinan alam. Oleh karena itu perlu dikembangkan teknik PCR untuk deteksi keberadaan kuman Brucella pada sampel semen. Pengembangan teknik PCR ini digunakan primer dari gen 16sRNA dan OMP Brucella. Sampel semen sapi yang diuji adalah semen segar dan semen beku.
Hasil elektroforesis gel uji PCR dengan menggunakan berbagai pasangan primer ditampilkan pada gambar di bawah ini. Gambar pertama menunjukkan hasil uji sampel semen segar yang di spike B. abortus dengan primer Bruc (A) untuk genus Brucella sp dan Bruc6 (B) untuk B. abortus.
Pada gambar kedua menunjukkan hasil uji PCR sampel semen segar yang di spike B. abortus dengan primer OMP (A) dan primer 16sRNA (B). Gambar ketiga menunjukkan hasil uji PCR sampel semen beku yang spike B. abortus dengan primer OMP (A) dan primer 16sRNA (B).
Teknik PCR yang telah dioptimasi selanjutnya digunakan untuk deteksi Brucella pada sampel semen segar dan semen beku yang diambil dari lapang. Hasil uji PCR terhadap 29 sampel lapang telah terdeteksi 5 sampel yang positif, sedangkan dari hasil kultur semen sapi tidak terdeteksi adanya kuman Brucella. Hal ini dapat terjadi karena walaupun biakan kuman merupakan diagnosis standar baku untuk Brucellosis namun ada beberapa kelemahan yaitu sensitifitasnya.
rendah sehingga sering terjadi negative palsu dan memerlukan waktu lama serta keahlian seseorang dalam mengidentifikasi. Sensitifitas diagnosis melalui biakan kuman sangat dipengaruhi oleh konsentrasi jumlah kuman yang shedding dalam susu maupun semen sapi karena B.abortus merupakan bakteri fastidious yang sulit tumbuh dan lambat pertumbuhannya.
Dari hasil yang telah diperoleh tersebut dapat disimpulkan bahwa teknik PCR dapat mendeteksi adanya Brucella pada semen segar dan semen beku sapi dengan limit deteksi 1pg/ul.

Puslitbangnak

Sabtu, Juni 13, 2015

Evaluasi Performa Beberapa Varietas Unggul Sorghum spp untuk Pakan Ternak


Sorghum spp merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber hijauan bagi ternak ruminansia, bijinya dapat digunakan untuk bahan pangan maupun pakan dan batangnya dapat diproses untuk bioenergi.
Saat ini telah banyak tersedia varietas sorghum yang telah diperbaiki produksinya untuk dibudidayakan baik
untuk serealia, hijauan pakan maupun untuk tujuan ganda yaitu pangan dan pakan. Biji sorghum dapat dijadikan tepung untuk menggantikan terigu dan dapat diolah menjadi bermacam makanan, seperti mi, roti, cake, kue kering serta makanan lainnya.
Pemuliaan varietas sorghum telah banyak dilakukan baik secara konvensional maupun dengan teknik irradiasi. Varietas sorghum untuk hijauan pakan ternak, dapat merupakan hijauan potong maupun diawetkan sebagai hay maupun silase. Sorghum kebanyakan mempunyai protein dan produksi hijauan yang mirip dengan tanaman jagung.
Penelitian ini mengevaluasi produksi dan kualitas biomasa hijauan beberapa varietas/galur Sorghum bicolor untuk hijauan pakan ternak dengan menggunakan varietas/galur dari berbagai sumber (Balitserialia, BATAN, Pacific seed yang bekerjasama dengan Balai Penyuluhan Pertanian/BPP), Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang merupakan lahan kering beriklim kering.
Sembilan varietas/galur Sorghum bicolor biji ditanam langsung di lapangan, tiap lubang ditanam 3 biji dan setelah tumbuh dipertahankan 1 tanaman. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kompos komersial, dengan dosis 2,5 ton/ha dan pupuk kimia, sebagai pupuk dasar adalah SP36 sebanyak 100 kg/ha, KCl 90kg/ha dan urea 150kg/ha. Hasil pengamatan pertumbuhan, yaitu dengan pengukuran tinggi tanaman dilakukan pada 65 hari setelah tanam dan umur 45 hari setelah panen. Pertumbuhan awal sorghum dengan berbagai varietas/galur belum menunjukkan perbedaan. Namun pada umur 45 hari ratton 1, varietas super 2, G5 dan Super 1 menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dibanding yang lain.
Umur tanaman 65 hari, ada 5 varietas/galur yang belum berbunga yaitu Super 2, G5, Kawali, PAC 593 dan PAC 537. Sedang yang paling banyak sudah berbunga adalah varietas Super1.
Pada umur 110 hari, tanaman di panen sebelum berbiji. Produksi bagian atas tanaman, yang terdiri dari daun dan batang bervariasi diantara varietas atau galur yang diuji dan antar panen. Produksi paling rendah pada periode ratton 2 dan paling tinggi pada ratoon 1. Produksi panen awal berkisar 7,09 –16,36 ton/ha. Produksi bagian atas tertinggi dicapai oleh varietas PAC 537, yaitu 16,36 ton/ha, disusul varietas.
Super 1 yaitu 14,58 ton/ha dan terendah galur G2 yaitu 7,09 ton/ha. Pada Ratoon 1, semua tanaman sudah mulai berbunga pada 45 hari masa ratoon 1. Produksi bagian atas tanaman varietas/galur yang diuji meningkat, yaitu berkisar antara 12,42 - 18,42 ton/ha. PAC 537 menghasilkan produksi bagian atas tertinggi yaitu 18,42 ton. Tanaman sorghum dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik dilahan kering beriklim kering, dengan curah hujan rendah dan musim kemarau panjang seperti Gunung Kidul Yogyakarta, dengan curah hujan 1324 mm/tahun dengan hari hujan 59 hari/tahun. Produksi hijauan dalam 3 kali panen (1 tahun), bervariasi antara varietas/galur dan antar panen. Produksi hijauan varietas/galur PAC 537 konsisten paling tinggi baik pada panen awal maupun ratoon 1 dan 2, diikuti Super 1.
Kandungan protein, NDF, ADF serta mineral Ca, P bervariasi antara panen. Kandungan protein sampai ratton 1 berkisar 6,37% - 11,59 % sedang NDF nilainya berkisar 61,68 –68,52 % dan ADF 36,39-44,43% mineral Ca 0,51%-0,99% dan P 0,20-0,37%. Kecernaan bahan kering (KCBK) maupun kecernaan bahan organik (KCBO) berkisar 54,55 –78,31% dan KCBO 51,54-76,35%.
Dari parameter produksi dan kualitas hijauan, maka varietas Super 1 dapat dibudidayakan sebagai sumber hijauan di daerah kering beriklim kering. Di samping itu varietas Super 1 varietas bukan hasil hibridisasi sehingga kemungkinan terjadi segregasi bila ditanam dengan bijinya, kecil. Keragaman produksi maupun kualitas hijauan dari beberapa varietas/galur Sorghum bicolor, merupakan peluang melakukan pemuliaan untuk mendapatkan varietas sorghum yang mempunyai produksi dan kualitas tinggi sebagai sumber hijauan pakan ternak.

Puslitbangnak

Jumat, Juni 12, 2015

Penguatan FELISAVET untuk Deteksi Penyakit Brucellosis pada Sapi


Brucellosis adalah penyakit zoonosis yang sering menyerang pada sapi, disebabkan oleh bakteri Brucella abortus dan merupakan spesies yang pathogen. Brucellosis pada sapi mudah menyebar secara cepat pada kelompok ternak yang tidak divaksinasi dan 80% sapi pada kebuntingan akhir dapat terjadi abortus.
Kejadian Brucellosis pada sapi telah menyebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia kecuali Pulau Bali dan Lombok yang baru dinyatakan bebas Brucellosis pada tahun 2002 dengan angka prevalensi bervariasi dari 1% hingga 40%. Spesies Brucella yang menginfeksi sapi-sapi di Indonesia adalah strain B. abortus biotipe 1 yang merupakan isolat lokal paling patogen sehingga mampu menimbulkan keguguran dan infeksi yang meluas pada organ dan jaringan tubuh sapi.
Program pengendalian dan pemberantasan Brucellosis pada sapi telah dilakukan oleh pemerintah melalui program vaksinasi dan potong bersyarat (test and slaughter) namun penyebaran penyakit ini dari tahun ke tahun semakin meningkat. Meningkatnya penyebaran Brucellosis pada sapi ini dapat dikarenakan adanya mutasi ternak yang kurang dapat dipantau oleh petugas peternakan, biaya kompensasi pengganti sapi reaktor positif sangat mahal dan kurangnya kesadaran dan pengetahuan peternak.
Oleh karena itu, Brucellosis menjadi salah satu prioritas nasional untuk dilakukan pencegahan, pengendalian dan pemberantasannya, karena dampak kerugian ekonomi yang ditimbulkannya sangat besar akibat tingginya angka keguguran, lahir mati, lahir lemah, infertilitas dan sterilitas pada sapi. Mengingat pentingnya penyakit tersebut deteksi cepat dalam rangka skreening penyakit reproduksi khususnya pada sapi dan kerbau sangat perlu dilakukan sejak dini.
Hal demikian dapat terwujud apabila terdapat perangkat diagnostik uji cepat yang akurat dan mampu mendeteksi beberapa penyakit reproduksi sekaligus sehingga terjadi efisiensi waktu. Salah satu perangkat diagnostik yang diharapkan mampu menjalankan tujuan tersebut adalah teknologi diagnosa Field ELISA (FELISAVET) yang telah dikembangkan oleh BB Litvet. FELISAVET merupakan teknik uji cepat yang berbasis ELISA yang dimodifikasi agar bisa diterapkan di lapangan. Keunggulan teknologi ini adalah dapat mendeteksi beberapa jenis penyakit dalam satu sampel, mudah diaplikasikan di lapangan dan hasilnya dapat segera diketahui yaitu hanya dalam waktu 25 menit.
Mengingat keunggulan teknologi tersebut, FELISAVET dapat digunakan untuk mendeteksi secara cepat penyakit Brucellosis di lapangan yaitu untuk skrining tes agar bisa dilakukan tindakan-tindakan penanganan lebih lanjut secara lebih cepat. Namun demikian inovasi teknologi diagnosa FELISAVET masih perlu dilakukan validasi terlebih dahulu. Validasi diperlukan agar aplikasi di lapang dapat lebih terjamin akurasinya. Validasi FELISAVET Brucella telah dilakukan dengan melakukan Validasi Uji dengan menggunakan serum kontrol positif dan negatif untuk uji Spesifisitas dan Sensitivitas, serta Validasi Komparatif dengan menggunakan kit komersial sebagai pembanding untuk Agreement Assay. Validasi kit FELISA untuk diagnosis brucelosis telah dapat dilaksanakan dan hasilnya sesuai harapan dengan tingkat akurasi uji 97,92-98,75%. Hasil uji FELISA juga memiliki kesesuaian uji yang sangat baik (k = 0,96-0,97) dalam diagnosis brucelosis dibandingkan RBT-CFT-ELISA

Puslitbagnak

Kamis, Juni 11, 2015

Prototipe Vaksin ND Genotipe VII Efektif dalam Mengendalikan Penyakit ND Generasi Baru


New Castle Disease (ND) merupakan penyakit yang sangat kontangius dan termasuk dalam satu dari penyakit penting pada unggas di dunia. Infeksi berlangsung secara cepat dan bisa menyebabkan kematian secara mendadak dengan mortalitas yang tinggi. Di Indonesia, penyakit ND pada tahun terakhir ini menunjukkan gejala yang sedikit berbeda dengan gejala penyakit ini sebelumnya. Gejalanya biasanya hanya menurunkan produksi telur, namun penurunannya sampai drastis dan tidak dapat mencapai puncak produksi. Seed vaksin yang digunakan biasanya adalah Lasota atau B1 (Lentogenik) terkadang kumarov (Mesogenik) dan beberapa dari isolat lokal Indonesia yang termasuk virus ND ganas (Velogenik). Meskipun vaksinasi diaplikasikan secara intensif, penyakit ND masih menyebabkan masalah bagi peternak. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan prototipe vaksin ND genotipe VII yang diperoleh pada penelitian tahun sebelumnya yaitu Chicken/Indonesia/GTT/11 sehingga dapat digunakan untuk menyediakan seed virus ND genotype VII yang sangat dibutuhkan oleh peternak.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah menformulasi vaksin dan melakukan vaksinasi pada ayam umur 3 minggu pada kelompok ayam yang divaksin dengan vaksin genotipe VII (Chicken/Indonesia/GTT/11) yang dibandingkan dengan vaksin genotipe VII komersial dan vaksin ND bukan GVII, dan kemudian ditantang dengan virus tantang Chicken/Indonesia/ GTT/11. Pengamatan dilakukan dengan mengukur titer antibody sebelum dan setelah vaksinasi, serta memeriksa adanya sheeding virus pasca tantang. Selain itu juga dilakukan identifikasi virus ND yang bersirkulasi di lapang dengan menggunakan metode RTPCR.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sirkulasi virus ND masih dapat dideteksi pada peternakan ayam yang melakukan vaksinasi ND. Vaksin ND generasi baru BB Litvet yang mengandung seed vaksin ND G7 chicken/Indonesia GTT/11 mempunyai respons pasca vaksinasi yang sangat baik, dengan rataan titer 7,3 log2 dan mampu memberikan perlindungan 100% pada ayam yang divaksinasi dari penyakit klinis, kematian, serta sheeding terhadap virus tantang.

Puslitbangnak