Kandang Kelompok

Kandang Kelompok ”Model Grati” merupakan model perkandangan yang dirancang dengan memperhatikan dalam satu ruang kandang ditempatkan beberapa ekor sapi induk/calon induk.

Ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Badan Litbang Pertanian)

Bobot badan : 1.200 -1.600 gram, Bobot telur : 35-45 gram, Umur pertama bertelur lebih awal (20 - 22 minggu),Produktivitas telur lebih tinggi (130 -160 butir/ekor/tahun, Produksi telur (henday) : 50 %, Puncak produksi telur : 65 %,Lebih tahan terhadap penyakit

Rabu, Juni 17, 2015

Integrasi hijauan legume dengan tanaman kelapa sawit dan jeruk mendukung suplemen protein bagi ternak kambing

Dalam sistem ini komponen tanaman legume rambat pada gawangan tanaman sawit dan jeruk merupakan subsistem pendukung, sedangkan tanaman kelapa sawit dan jeruk merupakan subsistem utama. Hal ini disebabkan karena tanaman pakan ternak merupakan subsistem yang harus beradaptasi dengan subsistem tanaman kelapa sawit dan jeruk. Pengadaan hijauan legume dilakukan untuk memanfaatakan lahan di areal perkebunan kelapa sawit, selain berguna sebagai pakan ternak juga sebagai covercrop yang dapat melindungi tanah dari kekeringan juga dapat menyuburkan tanah melalui peningkatan ketersediaan nitrogen dalam tanah. Empat jenis legume rambat ditanam digawangan kebun sawit pada umur pemanenan 45 hari diperoleh produksi hijauan segar yang tertinggi yaitu 1,24 kg/m2  terdapat pada legume rambat Clitoria ternatea, ketiga jenis legum lainnya memiliki produksi rata-rata 0,69 kg/m2 sedang di sela tanaman jeruk produksi segar hijauan legume
yang tertinggi yaitu 1,36 kg/m2 dihasilkan oleh Stylosanthes gueanensis . Sedang ketiga jenis legume rambat lainnya menghasilkan produksi rata-rata 0,59 kg/m2 atau 590 ton/hektar /tahun pada sela tanaman jeruk.
Dari segi produksi buah sawit yang diperoleh menunjukkan bahwa integrasi legume Chamaecrista rotundifolia adalah yang terbaik dalam produksi sawit yang tertinggi yaitu 1.467 kg per hektar.
Sedang untuk jenis legume rambat Arachis glabrata dikembangkan di sela sela tanaman sawit dan jeruk menghasilkan produksi hijauan dan produksi buah sawit yang terendah, dibanding ketiga jenis legume lainnya.
Tingkat kesuburan tanah ditinjau dari sumbangan nitrogen yang dihasilkan oleh ke empat jenis legume rambat yang di integrasikan, menunjukan hasil yang rendah yaitu sekitar 0,11 s/d 0,16 atau meningkat 0,01 s/d 0,06 persen nitrogen dalam tanah tanaman sawit.
Untuk tanaman jeruk peningkatan nitogen dalam tanah sedikit lebih baik yaitu berkisar 0,02 s/d 0,08 persen. Jenis legum yang terbaik sebagai penyumbang nitrogen dalam tanah pada sela sawit dan jeruk yaitu Stylosanthes gueanensis (0,06%) dan Clitoria ternatea (0,08%).

Puslitbangnak

Selasa, Juni 16, 2015

Formula Pakan Komplit Berbasis Perasan Buah Sawit dan Dua Jenis Cendawan sebagai Pengganti Rumput

Pembuatan pakan komplit merupakan salah satu terobosan teknologi yang perlu dikembangkan. Hal ini dikarenakan dengan pakan komplit tidak diperlukan pakan tambahan lainnya, sehingga lebih praktis. Penggunaan pakan komplit memudahkan pemenuhan kebutuhan nutrisi  dan menyumbang kebutuhan serat bagi stabilisasi ekosistem rumen pada ternak kambing.

Selain itu, pakan komplit juga lebih menjamin meratanya asupan harian pakan, sehingga fluktuasi kondisi ekosistem di dalam rumen dapat diminimalisir. Kondisi ini lebih sulit dicapai dengan pemberian pakan secara konvensional dimana pakan sumber serat (roughage) dan pakan konsentrat diberikan secara terpisah. Dalam perkembangannya, teknik pakan komplit juga semakin banyak digunakan pada peternakan penggemukan kambing potong (feedlot) untuk memaksimalkan pertambahan bobot badan ternak menjelang dipasarkan.

Pemanfaatan limbah Serat Perasan Buah Sawit (SPBS) perlu dieksplorasi sebagai komponen campuran pakan untuk ternak kambing. Nilai nutrisinya yang relatif sebanding dengan rumput alam memungkinkan limbah ini dijadikan bahan dalam pembuatan pakan komplit. Namun, pemanfaatan limbah ini akan dibatasi oleh kandungan serat terutama lignin yang relatif tinggi. Pada umumnya bahan pakan yang mengandung serat kasar yang tinggi memiliki nilai kecernaan yang rendah. Kemajuan bioteknologi saat ini memungkinkan optimasi pemanfaatan limbah SPBS sebagai sumber bahan pakan, yaitu melalui fermentasi.

Fermentasi dengan menggunakan beberapa jenis cendawan memungkinkan terjadinya perombakan bahan yang sulit dicerna oleh ternak menjadi bahan yang mudah dicerna, sehingga nilai manfaatnya meningkat. Cendawan yang selama ini dikenal merugikan karena menimbulkan penyakit aspergilosis dan aflatoksikosis, banyak pula yang menguntungkan dan dipakai untuk kepentingan manusia, misalnya kapang sebagai kontrol biologi cacing dan ragi khamir sebagai probiotik dan imunostimulan. Diantara jenis kapang dan khamir, terdapat Saccharomyces cerevisiae dan Marasmius sp. Kedua jenis cendawan ini banyak dikaji secara terpisah, sehingga timbul pemikiran untuk mengkombinasikan kedua jenis cendawan ini (SARAS = Saccharomyces cerevisiae + Marasmius sp.) dalam satu produk pakan komplit yang berbasis bahan lokal, yaitu SPBS.

Suatu penelitian telah dilakukan bertujuan untuk mempelajari penggunaan SPBS sebagai pengganti rumput dalam pakan komplit yang diperkaya dua jenis cendawan pada kambing. Tahapan penelitian meliputi:
  • Persiapan dan perbanyakan agen hayati;
  • Karakterisasi dan perbanyakan Marasmius sp. dan S. Cerevisiae;
  • Fermentasi serat perasan buah sawit dengan Marasmuis sp.; dan 4) formulasi serta pengemasan pakan komplit berbentuk pelet.
  • Pakan komplit disusun menjadi lima perlakuan berdasarkan perbandingan penggunaan unsur serat perasan buah sawit terfermentasi (SPBS-F) dengan unsur konsentrat 30:70, 40:60, 50:50, 60:40, dan 70:30. Parameter yang diamati meliputi karakteristik pertumbuhan kedua jenis cendawan pada media yang sama, nilai nutrisi produk pakan komplit, performans kambing Boerka yang diberi pakan komplit, serta income over feed cost.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa serat perasan buah sawit (SPBS) yang difermentasi Marasmius sp. menghasilkan kandungan nutrisi yang lebih baik dibandingkan sebelum difermentasi. Marasmius sp. dan S. Cerevisiae  mempunyai karakteristik sinergis bila ditumbuhkan secara bersamaan pada media yang sama. Terdapat kecenderungan nilai pertambahan bobot badan, tingkat konsumsi dan konversi pakan, serta nilai kecernaan yang menurun sejalan dengan meningkatnya penggunaan serat perasan buah sawit terfermentasi. Namun, penggunaan unsur konsentrat yang tinggi pada pakan komplit berbentuk pelet menjadi tidak ekonomis.
Perlakuan dengan penggunaan 50% serat perasan buah sawit terfermentasi dan 50% konsentrat pada pakan komplit  menjadi taraf perlakuan yang direkomendasikan.

Puslitbangnak

Pengelolaan dan Pemanfaatan Bibit Sapi Potong Bebas Penyakit Reproduksi


Sapi Peranakan Ongole (PO) merupakan salah satu sapi potong lokal yang tersebar luas hamper keseluruh sentra sapi potong di Indonesia, populasi terbesarnya berada di pulau Jawa terutama di Jawa Timur.

Permasalahan utama dan menjadi isu dalam pengembangan sapi PO adalah penurunan populasi dan produktivitas sapi PO akibat adanya pemotongan sapi betina produktif, persilangan dengan Bos taurus yang telah lama berlangsung dan terbatasnya pejantan yang berkualitas. Pembibitan sapi PO di beberapa wilayah menggunakan pejantan alam yang kualitasnya rendah karena belum ada pilihan untuk menggunakan pemacek yang baik. Untuk meningkatkan populasi dan produktivitas sapi PO, Lolitsapi telah melakukan perbanyakan bibit sumber sapi PO terseleksi melalui Unit Pengelolaan Bibit Unggul (UPBU) sapi potong. Populasi sapi PO terseleksi sampai dengan akhir tahun 2014 sebanyak 245 ekor bibit sumber sapi PO pada berbagai kondisi fisiologis yang terdiri atas sapi UPBU sebanyak 165 ekor dan sebanyak 80 ekor hasil dari kegiatan breeding tahun 2013 yang dihibahkan pada kegiatan UPBU.
Dalam upaya peningkatan kualitas genetik sapi PO yang ada di lapangan, Loka Penelitian Sapi Potong melakukan penyebaran sapi PO terseleksi ke beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tengah. Dalam upaya evaluasi pemanfaatan sapi PO terseleksi tersebut Loka Penelitan Sapi Potong melakukan monitoring evaluasi pemanfaatan pejantan di Probolinggo dan atau Pasuruan (Provinsi Jawa Timur); Kabupaten Semarang (Provinsi Jawa Tengah); Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa Barat); Kabupaten Bantul dan Sleman (Provinsi D.I. Yogyakarta); dan Kabupaten Panajam (Kalimantan Timur). Penyebaran pejantan sapi PO hasil seleksi Loka Penelitian Sapi Potong tahun 2014 (16 ekor), masih di bawah target yang ditetapkan yaitu 20 ekor.
Berdasarkan hasil monitoring pemanfaatan pejantan sapi PO hasil seleksi Lolitsapi telah dimanfaatkan sebagai pejantan pemacek (mengawini sapi betina) pada kelompok peternakan rakyat. Pemanfaatan pejantan sapi PO di Kab. Sleman (DI Yogyakarta) sebesar 55 ekor (12 bulan) dengan bobot lahir sebesar 25-30 kg, Kab Blora Jawa Tengah sebesar 23 ekor. Kelahiran pedet pada UPTD Pasuruan (tahun 2014) sebesar 32 ekor dengan bobot lahir 22-25 kg.

Puslitbangnak

Senin, Juni 15, 2015

Teknologi Unggulan Ayam Sentul F3

Bobot hidup pada umur 10 minggu adalah umur optimum yang diharapkan tidak merubah tekstur dan rasa daging ayam lokal.
Seleksi berdasarkan kriteria telah dilakukan selama tiga generasi. Ciri khas tampilan selain postur tubuh dan warna bulu, adalah bentuk jengger. Ada dua bentuk jengger yang muncul dalam populasi adalah bentuk jengger pea (kacang) dan single comb (kipas terbuka).Pada generasi ke tiga ini bentuk jengger didominasi dengan bentuk kacang (87,55% untuk jantan dan 91,79% pada yang betina).
Sesuai dengan tujuan seleksi, kinerja pertumbuhan sampai dengan umur 10 minggu yang meliput bobot hidup, konsumsi ransum, dan efisiensi penggunaan ransum (FCR= feed conversion ratio).
Bobot hidup pada umur 10 minggu adalah umur optimum yang diharapkan tidak mengubah tekstur dan rasa daging ayam lokal yang sementara disukai konsumen daging ayam lokal dengan bobot tubuh antara 700–1000 g/ekor sebagai bobot potong yang disukai konsumen khusus sebagai bobot potong yang cocok untuk potongan karkas sajian meja.
Pemeliharaan ayam Sentul F3 tersebut dilakukan secara intensif penuh dalam kandang koloni kawat dan di kandang koloni beralas lantai dengan litter sekam. Kualitas ransum yang diberikan sejak umur 0-10 minggu adalah 17% protein kasar dengan 2800 kkal energi termetabolis/kg.

Puslitbangnak

Minggu, Juni 14, 2015

Deteksi Brucella abortus pada Semen dengan Molekular PCR



Penyimpanan semen beku mempunyai keuntungan untuk penyimpanan semen dalam waktu lama namun memiliki kelemahan dapat menjadi sarana penyebaran beberapa mikroba patogen.

Salah satu agen yang dapat ditularkan melalui semen adalah Brucella abortus yang dapat mengakibatkan orchitis, visiculitis dan epididymitis pada hewan jantan. Brucellosis pada sapi umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas sehingga dapat bertindak sebagai hewan carrier.
Infeksi Brucella melalui inseminasi buatan (IB) dengan semen yang terkontaminasi lebih sering terjadi dibandingkan melalui perkawinan alam. Oleh karena itu perlu dikembangkan teknik PCR untuk deteksi keberadaan kuman Brucella pada sampel semen. Pengembangan teknik PCR ini digunakan primer dari gen 16sRNA dan OMP Brucella. Sampel semen sapi yang diuji adalah semen segar dan semen beku.
Hasil elektroforesis gel uji PCR dengan menggunakan berbagai pasangan primer ditampilkan pada gambar di bawah ini. Gambar pertama menunjukkan hasil uji sampel semen segar yang di spike B. abortus dengan primer Bruc (A) untuk genus Brucella sp dan Bruc6 (B) untuk B. abortus.
Pada gambar kedua menunjukkan hasil uji PCR sampel semen segar yang di spike B. abortus dengan primer OMP (A) dan primer 16sRNA (B). Gambar ketiga menunjukkan hasil uji PCR sampel semen beku yang spike B. abortus dengan primer OMP (A) dan primer 16sRNA (B).
Teknik PCR yang telah dioptimasi selanjutnya digunakan untuk deteksi Brucella pada sampel semen segar dan semen beku yang diambil dari lapang. Hasil uji PCR terhadap 29 sampel lapang telah terdeteksi 5 sampel yang positif, sedangkan dari hasil kultur semen sapi tidak terdeteksi adanya kuman Brucella. Hal ini dapat terjadi karena walaupun biakan kuman merupakan diagnosis standar baku untuk Brucellosis namun ada beberapa kelemahan yaitu sensitifitasnya.
rendah sehingga sering terjadi negative palsu dan memerlukan waktu lama serta keahlian seseorang dalam mengidentifikasi. Sensitifitas diagnosis melalui biakan kuman sangat dipengaruhi oleh konsentrasi jumlah kuman yang shedding dalam susu maupun semen sapi karena B.abortus merupakan bakteri fastidious yang sulit tumbuh dan lambat pertumbuhannya.
Dari hasil yang telah diperoleh tersebut dapat disimpulkan bahwa teknik PCR dapat mendeteksi adanya Brucella pada semen segar dan semen beku sapi dengan limit deteksi 1pg/ul.

Puslitbangnak

Sabtu, Juni 13, 2015

Evaluasi Performa Beberapa Varietas Unggul Sorghum spp untuk Pakan Ternak


Sorghum spp merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber hijauan bagi ternak ruminansia, bijinya dapat digunakan untuk bahan pangan maupun pakan dan batangnya dapat diproses untuk bioenergi.
Saat ini telah banyak tersedia varietas sorghum yang telah diperbaiki produksinya untuk dibudidayakan baik
untuk serealia, hijauan pakan maupun untuk tujuan ganda yaitu pangan dan pakan. Biji sorghum dapat dijadikan tepung untuk menggantikan terigu dan dapat diolah menjadi bermacam makanan, seperti mi, roti, cake, kue kering serta makanan lainnya.
Pemuliaan varietas sorghum telah banyak dilakukan baik secara konvensional maupun dengan teknik irradiasi. Varietas sorghum untuk hijauan pakan ternak, dapat merupakan hijauan potong maupun diawetkan sebagai hay maupun silase. Sorghum kebanyakan mempunyai protein dan produksi hijauan yang mirip dengan tanaman jagung.
Penelitian ini mengevaluasi produksi dan kualitas biomasa hijauan beberapa varietas/galur Sorghum bicolor untuk hijauan pakan ternak dengan menggunakan varietas/galur dari berbagai sumber (Balitserialia, BATAN, Pacific seed yang bekerjasama dengan Balai Penyuluhan Pertanian/BPP), Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang merupakan lahan kering beriklim kering.
Sembilan varietas/galur Sorghum bicolor biji ditanam langsung di lapangan, tiap lubang ditanam 3 biji dan setelah tumbuh dipertahankan 1 tanaman. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kompos komersial, dengan dosis 2,5 ton/ha dan pupuk kimia, sebagai pupuk dasar adalah SP36 sebanyak 100 kg/ha, KCl 90kg/ha dan urea 150kg/ha. Hasil pengamatan pertumbuhan, yaitu dengan pengukuran tinggi tanaman dilakukan pada 65 hari setelah tanam dan umur 45 hari setelah panen. Pertumbuhan awal sorghum dengan berbagai varietas/galur belum menunjukkan perbedaan. Namun pada umur 45 hari ratton 1, varietas super 2, G5 dan Super 1 menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dibanding yang lain.
Umur tanaman 65 hari, ada 5 varietas/galur yang belum berbunga yaitu Super 2, G5, Kawali, PAC 593 dan PAC 537. Sedang yang paling banyak sudah berbunga adalah varietas Super1.
Pada umur 110 hari, tanaman di panen sebelum berbiji. Produksi bagian atas tanaman, yang terdiri dari daun dan batang bervariasi diantara varietas atau galur yang diuji dan antar panen. Produksi paling rendah pada periode ratton 2 dan paling tinggi pada ratoon 1. Produksi panen awal berkisar 7,09 –16,36 ton/ha. Produksi bagian atas tertinggi dicapai oleh varietas PAC 537, yaitu 16,36 ton/ha, disusul varietas.
Super 1 yaitu 14,58 ton/ha dan terendah galur G2 yaitu 7,09 ton/ha. Pada Ratoon 1, semua tanaman sudah mulai berbunga pada 45 hari masa ratoon 1. Produksi bagian atas tanaman varietas/galur yang diuji meningkat, yaitu berkisar antara 12,42 - 18,42 ton/ha. PAC 537 menghasilkan produksi bagian atas tertinggi yaitu 18,42 ton. Tanaman sorghum dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik dilahan kering beriklim kering, dengan curah hujan rendah dan musim kemarau panjang seperti Gunung Kidul Yogyakarta, dengan curah hujan 1324 mm/tahun dengan hari hujan 59 hari/tahun. Produksi hijauan dalam 3 kali panen (1 tahun), bervariasi antara varietas/galur dan antar panen. Produksi hijauan varietas/galur PAC 537 konsisten paling tinggi baik pada panen awal maupun ratoon 1 dan 2, diikuti Super 1.
Kandungan protein, NDF, ADF serta mineral Ca, P bervariasi antara panen. Kandungan protein sampai ratton 1 berkisar 6,37% - 11,59 % sedang NDF nilainya berkisar 61,68 –68,52 % dan ADF 36,39-44,43% mineral Ca 0,51%-0,99% dan P 0,20-0,37%. Kecernaan bahan kering (KCBK) maupun kecernaan bahan organik (KCBO) berkisar 54,55 –78,31% dan KCBO 51,54-76,35%.
Dari parameter produksi dan kualitas hijauan, maka varietas Super 1 dapat dibudidayakan sebagai sumber hijauan di daerah kering beriklim kering. Di samping itu varietas Super 1 varietas bukan hasil hibridisasi sehingga kemungkinan terjadi segregasi bila ditanam dengan bijinya, kecil. Keragaman produksi maupun kualitas hijauan dari beberapa varietas/galur Sorghum bicolor, merupakan peluang melakukan pemuliaan untuk mendapatkan varietas sorghum yang mempunyai produksi dan kualitas tinggi sebagai sumber hijauan pakan ternak.

Puslitbangnak