Kandang Kelompok

Kandang Kelompok ”Model Grati” merupakan model perkandangan yang dirancang dengan memperhatikan dalam satu ruang kandang ditempatkan beberapa ekor sapi induk/calon induk.

Ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Badan Litbang Pertanian)

Bobot badan : 1.200 -1.600 gram, Bobot telur : 35-45 gram, Umur pertama bertelur lebih awal (20 - 22 minggu),Produktivitas telur lebih tinggi (130 -160 butir/ekor/tahun, Produksi telur (henday) : 50 %, Puncak produksi telur : 65 %,Lebih tahan terhadap penyakit

Senin, Juni 22, 2015

Penggunaan daun dan pelepah sawit difermentasi dengan ragi tempe Trichoderma viride dan Rhizopus oligosporus untuk pakan kambing



Tanaman kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang memiliki multi guna, selain terkenal sebagai sumber minyak (Palm Oil Crude), hampir seluruh bagian tanaman sawit dapat memberi manfaat bagi industri Limbah perkebunan sawit berupa daun dan pelepah sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak ruminansia seperti sapi, kerbau. kambing dan domba. sampai dengan menjadi bahan pakan ternak. Pelepah sawit yang baru di potong dalam bentuk segar dapat diberikan sebagai pakan kambing, setelah lebih dahulu di olah dengan mencacah menjadi bentuk pendek atau digiling dengan mesin menjadi bentuk abon, walaupun setelah diberikan masih kurang disukai kambing karena aromanya kurang disukai.
Salah satu metode agar limbah daun dan pelepah sawit disukai kambing adalah melalui fermentasi dengan mikroba ragi “Trichoderma viride dan Rhizopus oligosporus” . Kandungan protein daun dan pelepah sawit yang relatif rendah 5,3%) setelah terfermentasi selama 14 hari, protein meningkat menjadi 8,85%, bentuk fisik menjadi lembut dan aromanya menjadi wangi dan disukai oleh kambing.
Mikroba dapat diperbanyak melalui inokulum dengan cara memasukan dua liter biakan inokulum kedalam larutan air campuran bioreaktor, 3 kg gula pasir, 2 kg tepung beras, 2 kg ragi tempe, 1 kg urea, 1 kg KCl dan 1 kg SP-36. Biakan dalam bioreaktor dilakukan aerasi dan pengadukan selama tujuh hari. Setelah tujuh hari, larutan mikroba siap digunakan untuk fermentasi daun dan pelepah kelapa sawit .
20 ekor kambing boerka jantan sedang tumbuh dengan bobot hidup rata-rata 13 kg setelah mengkonsumsi daun dan pelepah sawit fermentasi selama 12 minggu menunjukan pengaruh yang cukup baik terhadap pertambahan bobot akhir kambing rata- rata 4,3 kg selama 12 minggu, atau dengan bobot akhir rata-rata 17,5 kilogram.
Sebagai kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa daun dan pelepah sawit yang difermentasi dapat digunakan sampai tingkat 30 persen sebagai pengganti (substitusi) rumput, selain itu juga dapat meningkatkan efisiensi ekonomis dengan menurunkan biaya pakan sebesar 18 sampai 36,17% selama 12 minggu dibanding pakan daun dan pelepah segar tanpa fermentasi.

Puslitbangnak

Jumat, Juni 19, 2015

Penyerentakan berahi menggunakan hormon progresteron efektif tingkatkan reproduksi ternak domba/kambing

Kambing PE (Peternakan Etawa) merupakan ternak kambing tipe dwiguna yaitu kambing yang menghasilkan daging dan susu. Produksi susu kambing PE relatif masih rendah dengan tingkat keragaman tinggi: 1 - 3,5 liter/hari dengan rataan 1,1 liter/hari. Upaya untuk meningkatkan produksi susu kambing PE maka perlu dilakukan penelitian, salah satunya adalah dengan menyilangkan atau mengawinkan dengan kambing tipe perah lainya seperti kambing Anglo Nubian yang umumnya berasal dari daerah sub tropis agar menghasilkan produksi susu seperti yang diharapkan untuk meningkatkan status gizi masyarakat di pedesaan melalui konsumsi susu kambing.
Untuk mempercepat dalam menghasilkan anak dan memproduksi susu ternak kambing perlu diserentakan berahi dan diatur perkawinannya.  Pada prinsipnya penyerentakan berahi adalah memanipulasi proses reproduksi ternak hingga mengalami peristiwa berahi secara bersamaan.  Penghentian perlakuan progestagen secara mendadak mengakibatkan folikel tumbuh berkembang dan produksi estrogen meningkat sehingga ternak menunjukkan tanda-tanda berahi.
Pemberian progesteron secara intravaginal banyak dilakukan, sedangkan penyuntikan hormon akan lebih efisien dalam hal waktu dan tenaga.  Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penyerentakan berahi menggunakan hormon progresteron sangat efektif meningkatkan efisiensi reproduksi ternak domba/kambing.

Puslitbangnak

Kamis, Juni 18, 2015

Pemanfaatan produk wafer sebagai sumber pakan ternak kambing



Produk wafer ini diolah dari bahan baku menggunakan leguminosa pohon Indigofera sp sebagai sumber protein dan dicampur dengan pelepah sawit sebagai sumber energi dan serat, serta molases sebagai media energi fermentasi. Produk pakan wafer yang disediakan sesuai dengan formulasi pakan yang sudah ditentukan. Produk pakan wafer ini diberikan kepada ternak kambing boerka jantan sedang tumbuh sebanyak 20 ekor selama 12 minggu. Hasilnya menunjukan bahwa semakin tinggi level Indigofera pada susunan pakan maka produk wafernya akan semakin meningkat kandungan proteinnya, karena Indigofera merupakan bahan baku yang memiliki kandungan protein tinggi (27%), sebaliknya semakin meningkat level pelepah sawit pada susunan pakan maka produk wafer akan semakin rendah proteinnya tetapi semakin tinggi kandungan seratnya, karena pelepah sawit diketahui mengandung serat kasar yang tinggi.
Konsumsi pakan semakin menurun dengan semakin meningkatnya pelepah sawit yang diberikan kepada kambing. Konsumsi pelepah dalam wafer tertinggi sebesar 362,30 g/ekor/hari, atau dengan kandungan serat pelepah sawit pada sebesar 45%, pada tingkat ini menunjukkan kebutuhan serat sudah mencapai ambang batas. Proses pencernaan serat pelepah sawit membutukan waktu yang cukup lama untuk dicerna oleh microorganisme dalam pencernaan ternak kambing, sehingga penggunaan serat pelapah diatas 45% akan menurunkan kecernaan dan konsumsi. Disarankan untuk penggunaan pelepah sawit dalam jumlah yang cukup tinggi sebelum diberikan kepada ternak diperlukan proses fermentasi, agar komponen serat dapat lebih mudah dicernakan oleh ternak. Sebaliknya penggunaan indigofera dalam bentuk halus (setelah digiling) dalam wafer menunjukkan peningkatan konsumsi yang lebih baik dibanding bila diberikan dalam bentuk normal tanpa pengolahan.

Puslitbangnak

Rabu, Juni 17, 2015

Rusa Timor sebagai Plasma Nutfah Ternak yang Adaptip Iklim Tropis


Klasifikasi Ilmiah. Kerajaan: Animalia. Filum: Vertebrata. Sub filum : Chordata. Kelas: Mammalia. Ordo: Artiodactyla. Famili: Cervidae. Genus: Cervus. Spesies: Cervus timorensis.
Rusa timor merupakan salah satu rusa asli Indonesia selain rusa bawean, sambar, dan menjangan. Rusa timor yang mempunyai nama latin Cervus timorensis diperkirakan asli berasal dari Jawa dan Bali, kini ditetapkan menjadi fauna identitas provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).  Rusa timor sering juga disebut sebagai rusa jawa. Dalam bahasa Inggris, rusa timor mempunyai beberapa sebutan seperti Javan Rusa, Javan Deer, Rusa, Rusa Deer, dan Timor Deer. Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) binatang ini disebut sebagai Cervus timorensis yang mempunyai beberapa nama sinonim seperti Cervus celebensis, Cervus hippelaphus, Cervus lepidus, Cervus moluccensis, Cervus peronii, Cervus russa, Cervus tavistocki, Cervus timorensis, dan Cervus tunjuc.
Ciri-ciri Fisik dan Perilaku. Rusa timor (Cervus timorensis) yang ditetapkan menjadi fauna identitas NTB, mempunyai bulu berwarna coklat kemerah-merahan hingga abu-abu kecoklatan dengan bagian bawah perut dan ekor berwarna putih.
Rusa timor dewasa mempunyai panjang badan berkisar antara 195-210 cm dengan tinggi badan mencapai antara 91-110 cm. Rusa timor (Cervus timorensis) mempunyai berat badan antara 103-115 kg walaupun rusa timor yang berada dipenangkaran mampu memiliki bobot sekitar 140 kg. Ukuran rusa timor ini meskipun kalah besar dari sambar (Cervus unicolor) namun dibandingkan dengan rusa jenis lainnya seperti rusa bawean, dan menjangan, ukuran tubuh rusa timor lebih besar.
Rusa jantan memiliki tanduk (ranggah) yang bercabang. Tanduk akan tumbuh pertama kali pada anak jantan saat umur 8 bulan. Setelah dewasa, tanduk menjadi sempurna yang ditandai dengan terdapatnya 3 ujung runcing.
Rusa timor (Cervus timorensis) merupakan hewan yang dapat aktif di siang hari (diurnal) maupun di malam hari (nokturnal), tergantung kondisi habitatnya.  Rusa timor sebagaimana rusa lainnya termasuk hewan pemamah biak yang menyukai daun-daunan dan berbagai macam buah-buahan Rusa memakan berbagai bagian tumbuhan mulai dari pucuk, daun muda, daun tua, maupun batang muda.
Umumnya rusa timor bersifat poligamus yaitu satu penjantan akan mengawini beberapa betina. Rusa betina mempunyai anak setiap tahun dengan sekali musim rata-rata satu ekor anak.
Subspesies Rusa Timor. Whitehead (Schroder dalam Nugroho, 1992; Semiadi, 2002) membagi jenis rusa timor (Cervus timorensis) menjadi 8 subspesies (anak jenis), yaitu:
  1. Cervus timorensis russa biasa ditemukan di Pulau Jawa
  2. Cervus timorensis florensis biasa ditemukan Pulau Lombok dan Pulau Flores
  3. Cervus timorensis timorensis biasa ditemukan P. Timor, P. Rate, P. Semau, P. Kambing, P. Alor, dan P. Pantai
  4. Cervus timorensis djonga biasa ditemukan P. Muna dan P. Buton
  5. Cervus timorensis molucensis biasa ditemukan Kep. Maluku, P. Halmahera, P. Banda, dan P. Seram
  6. Cervus timorensis macassaricus biasa ditemukan P. Sulawesi
  7. Cervus timorensis renschi
  8. Cervus timorensis laronesietes
Habitat dan Persebaran. Rusa timor diperkirakan berasal dari pulau Jawa dan Bali yang kemudian tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan telah diintroduksi juga ke berbagai negara seperti Australia, Mauritius, Kaledonia, Selandia Baru, Papua Nugini, dan Timor Leste.
Habitat rusa timor adalah padang rumput pada daerah beriklim tropis dan subtropis, namun binatang ini mampu beradaptasi di habitat yang berupa hutan, pegunungan, dan rawa-rawa. Rusa yang menjadi fauna identitas Nusa Tenggara Barat ini dapat hidup hingga ketinggian 900 meter dpl.

Populasi dan Konservasi
. Populasi rusa timor secara keseluruhan diperkirakan sekitar 10.000 hingga 20.000 ekor dewasa. Berdasarkan jumlah populasi dan persebarannya, rusa timor dimasukkan dalam status konservasi “vulnerable” (Rentan) oleh IUCN Red List.  Populasi rusa timor terbesar terdapat di TN. Wasur, Papua dengan populasi sekitar 8.000 ekor (1992). Populasi di Jawa justru megalami pengurangan yang sangat besar. Seperti di TN. Baluran sekitar 1.000 ekor (2008).
Ancaman utama terhadap rusa timor berasal dari perburuan yang dilakukan oleh manusia untuk mengambil dagingnya. Penurunan populasi juga diakibatkan oleh berkurangnya lahan dan padang penggembalaan (padang rumput) di Taman Nasional yang menjadi habitat rusa timor. Hilangnya padang rumput ini ada yang diakibatkan oleh konversi menjadi lahan pertanian dan pemikiman juga oleh kesalahan pengelolaan seperti penanaman pohon yang yang kemudian merubah padang rumput menjadi hutan semak seperti yang pernah terjadi di TN. Baluran.

Puslitbangnak

Integrasi hijauan legume dengan tanaman kelapa sawit dan jeruk mendukung suplemen protein bagi ternak kambing

Dalam sistem ini komponen tanaman legume rambat pada gawangan tanaman sawit dan jeruk merupakan subsistem pendukung, sedangkan tanaman kelapa sawit dan jeruk merupakan subsistem utama. Hal ini disebabkan karena tanaman pakan ternak merupakan subsistem yang harus beradaptasi dengan subsistem tanaman kelapa sawit dan jeruk. Pengadaan hijauan legume dilakukan untuk memanfaatakan lahan di areal perkebunan kelapa sawit, selain berguna sebagai pakan ternak juga sebagai covercrop yang dapat melindungi tanah dari kekeringan juga dapat menyuburkan tanah melalui peningkatan ketersediaan nitrogen dalam tanah. Empat jenis legume rambat ditanam digawangan kebun sawit pada umur pemanenan 45 hari diperoleh produksi hijauan segar yang tertinggi yaitu 1,24 kg/m2  terdapat pada legume rambat Clitoria ternatea, ketiga jenis legum lainnya memiliki produksi rata-rata 0,69 kg/m2 sedang di sela tanaman jeruk produksi segar hijauan legume
yang tertinggi yaitu 1,36 kg/m2 dihasilkan oleh Stylosanthes gueanensis . Sedang ketiga jenis legume rambat lainnya menghasilkan produksi rata-rata 0,59 kg/m2 atau 590 ton/hektar /tahun pada sela tanaman jeruk.
Dari segi produksi buah sawit yang diperoleh menunjukkan bahwa integrasi legume Chamaecrista rotundifolia adalah yang terbaik dalam produksi sawit yang tertinggi yaitu 1.467 kg per hektar.
Sedang untuk jenis legume rambat Arachis glabrata dikembangkan di sela sela tanaman sawit dan jeruk menghasilkan produksi hijauan dan produksi buah sawit yang terendah, dibanding ketiga jenis legume lainnya.
Tingkat kesuburan tanah ditinjau dari sumbangan nitrogen yang dihasilkan oleh ke empat jenis legume rambat yang di integrasikan, menunjukan hasil yang rendah yaitu sekitar 0,11 s/d 0,16 atau meningkat 0,01 s/d 0,06 persen nitrogen dalam tanah tanaman sawit.
Untuk tanaman jeruk peningkatan nitogen dalam tanah sedikit lebih baik yaitu berkisar 0,02 s/d 0,08 persen. Jenis legum yang terbaik sebagai penyumbang nitrogen dalam tanah pada sela sawit dan jeruk yaitu Stylosanthes gueanensis (0,06%) dan Clitoria ternatea (0,08%).

Puslitbangnak

Selasa, Juni 16, 2015

Formula Pakan Komplit Berbasis Perasan Buah Sawit dan Dua Jenis Cendawan sebagai Pengganti Rumput

Pembuatan pakan komplit merupakan salah satu terobosan teknologi yang perlu dikembangkan. Hal ini dikarenakan dengan pakan komplit tidak diperlukan pakan tambahan lainnya, sehingga lebih praktis. Penggunaan pakan komplit memudahkan pemenuhan kebutuhan nutrisi  dan menyumbang kebutuhan serat bagi stabilisasi ekosistem rumen pada ternak kambing.

Selain itu, pakan komplit juga lebih menjamin meratanya asupan harian pakan, sehingga fluktuasi kondisi ekosistem di dalam rumen dapat diminimalisir. Kondisi ini lebih sulit dicapai dengan pemberian pakan secara konvensional dimana pakan sumber serat (roughage) dan pakan konsentrat diberikan secara terpisah. Dalam perkembangannya, teknik pakan komplit juga semakin banyak digunakan pada peternakan penggemukan kambing potong (feedlot) untuk memaksimalkan pertambahan bobot badan ternak menjelang dipasarkan.

Pemanfaatan limbah Serat Perasan Buah Sawit (SPBS) perlu dieksplorasi sebagai komponen campuran pakan untuk ternak kambing. Nilai nutrisinya yang relatif sebanding dengan rumput alam memungkinkan limbah ini dijadikan bahan dalam pembuatan pakan komplit. Namun, pemanfaatan limbah ini akan dibatasi oleh kandungan serat terutama lignin yang relatif tinggi. Pada umumnya bahan pakan yang mengandung serat kasar yang tinggi memiliki nilai kecernaan yang rendah. Kemajuan bioteknologi saat ini memungkinkan optimasi pemanfaatan limbah SPBS sebagai sumber bahan pakan, yaitu melalui fermentasi.

Fermentasi dengan menggunakan beberapa jenis cendawan memungkinkan terjadinya perombakan bahan yang sulit dicerna oleh ternak menjadi bahan yang mudah dicerna, sehingga nilai manfaatnya meningkat. Cendawan yang selama ini dikenal merugikan karena menimbulkan penyakit aspergilosis dan aflatoksikosis, banyak pula yang menguntungkan dan dipakai untuk kepentingan manusia, misalnya kapang sebagai kontrol biologi cacing dan ragi khamir sebagai probiotik dan imunostimulan. Diantara jenis kapang dan khamir, terdapat Saccharomyces cerevisiae dan Marasmius sp. Kedua jenis cendawan ini banyak dikaji secara terpisah, sehingga timbul pemikiran untuk mengkombinasikan kedua jenis cendawan ini (SARAS = Saccharomyces cerevisiae + Marasmius sp.) dalam satu produk pakan komplit yang berbasis bahan lokal, yaitu SPBS.

Suatu penelitian telah dilakukan bertujuan untuk mempelajari penggunaan SPBS sebagai pengganti rumput dalam pakan komplit yang diperkaya dua jenis cendawan pada kambing. Tahapan penelitian meliputi:
  • Persiapan dan perbanyakan agen hayati;
  • Karakterisasi dan perbanyakan Marasmius sp. dan S. Cerevisiae;
  • Fermentasi serat perasan buah sawit dengan Marasmuis sp.; dan 4) formulasi serta pengemasan pakan komplit berbentuk pelet.
  • Pakan komplit disusun menjadi lima perlakuan berdasarkan perbandingan penggunaan unsur serat perasan buah sawit terfermentasi (SPBS-F) dengan unsur konsentrat 30:70, 40:60, 50:50, 60:40, dan 70:30. Parameter yang diamati meliputi karakteristik pertumbuhan kedua jenis cendawan pada media yang sama, nilai nutrisi produk pakan komplit, performans kambing Boerka yang diberi pakan komplit, serta income over feed cost.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa serat perasan buah sawit (SPBS) yang difermentasi Marasmius sp. menghasilkan kandungan nutrisi yang lebih baik dibandingkan sebelum difermentasi. Marasmius sp. dan S. Cerevisiae  mempunyai karakteristik sinergis bila ditumbuhkan secara bersamaan pada media yang sama. Terdapat kecenderungan nilai pertambahan bobot badan, tingkat konsumsi dan konversi pakan, serta nilai kecernaan yang menurun sejalan dengan meningkatnya penggunaan serat perasan buah sawit terfermentasi. Namun, penggunaan unsur konsentrat yang tinggi pada pakan komplit berbentuk pelet menjadi tidak ekonomis.
Perlakuan dengan penggunaan 50% serat perasan buah sawit terfermentasi dan 50% konsentrat pada pakan komplit  menjadi taraf perlakuan yang direkomendasikan.

Puslitbangnak