Rabu, September 04, 2013

Optimalisasi pemanfaatan bahan pakan lokal untuk meningkatkan produktivitas ayam kampung

Bahan pakan lokal konvensional maupun inkonvensional terdiri dari sumber protein nabati, protein hewani dan energi. Penggunaan bahan pakan lokal  yang berasal dari limbah pertanian dan limbah industri mempunyai kendala antara lain rendahnya kandungan zat nutrisi dan adanya zat anti nutrisi yang dapat menurunkan produktivitas ternak . Pemberian bahan pakan dalam bentuk mentah dapat mengganggu perkembangan dan fungsi organ tubuh, sehingga dapat menghambat proses pencernaan dan menurunkan efisiensi penggunaan pakan.

Oleh karena itu telah dikembangkan  teknologi pengolahan yang mudah diaplikasikan  untuk mengoptimalkan penggunaan bahan pakan lokal  dalam pakan ayam kampung  maupun ayam ras, karena diasumsikan bahwa daya toleransi penggunaan bahan pakan untuk ayam ras dapat diaplikasikan pada ayam kampung.

Bahan Pakan Sumber Protein Nabati


Bahan pakan yang biasa digunakan sebagai sumber protein nabati seperti bungkil kedelai, bungkil kacang tanah dan bungkil kelapa  untuk pakan ayam ketersediaannya masih berfluktuatif dan bersaing dengan ternak lainnya serta harganya relatif mahal. Pengujian terhadap beberapa bahan pakan sumber protein nabati alternatif seperti bungkil biji kapuk, bungkil biji kemiri dan bungkil biji karet masing-masing sebanyak 10 % pada ayam kampung, dapat memperbaiki konversi pakan dari 4,6 menjadi 4,1 (11,5%).



Teknologi pengolahan dapat meningkatkan daya toleransi ayam terhadap penggunaan bahan pakan lokal . Pemberian tepung biji saga pohon (Adenanthera pavonina, LINN) sebanyak 7,5 % dalam pakan ayam kampung dapat meningkatkan bobot badan pada umur 9 minggu dari 677 g menjadi 763 g (11,9 %) dan memperbaiki konversi pakan dari 4,02 menjadi 3,15 (21,7%). Biji saga dan bungkil biji saga yang dimasak baik disangray, direbus maupun dikukus dalam pakan ayam, dapat ditingkatkan penggunaannya dari 5 % menjadi 15-20% dan memperbaiki konversi pakan dari 2,5 menjadi 2,4 (4,5%).

Begitu juga  kacang gude (Cajanus cajan Mill sp.) yang direbus dapat meningkatkan penggunaannya dalam pakan ayam dari 30% menjadi 40 % serta memperbaiki konversi pakan dari 3,1 menjadi 2,5(18,8%). Ampas tahu yang difermentasi dapat ditingkatkan   penggunaannya dari 5 % menjadi 12 % pada pakan ayam pedaging.
Dengan demikian proses pengolahan dapat meningkatkan penggunaan bahan pakan lokal sumber protein nabati dan efisiensi penggunaan pakan (5-15%).

Bahan Pakan Sumber Protein Hewani

Bahan pakan lokal sumber protein hewani memiliki keunggulan karena kandungan asam-asam aminonya lengkap, sehingga sangat baik untuk pertumbuhan dan produksi ternak. Namun bahan pakan konvensional seperti tepung ikan, tepung daging dan tepung darah harganya mahal dan tidak stabil. Beberapa bahan pakan sumber protein hewani yang dapat digunakan untuk pakan ayam adalah sebagai berikut tepung cacing tanah dapat mensubstitusi tepung ikan dalam pakan ayam pedaging pada umur 0-5 minggu sebanyak 15% ,dan dapat memperbaiki nilai konversi pakan dari 2,1 menjadi 1,9(4,3%) dan persentase bobot karkas dari 68 % menjadi 72 % (5,9%) (Resnawati, 2004; 2005; 2006). Penggunaan tepung cangkang udang kering 5,2 % dalam pakan ayam kampung periode pertumbuhan dapat mencapai bobot badan 669 g pada umur 8 minggu, sedangkan penggunaan 37,5 % dalam pakan ayam kampung petelur menghasilkan pruduksi telur cukup baik sekitar 50 % ( Winarti dan Bariroh, 1998). Tepung bekicot diberikan 22,6 % dan silase bekicot 32 % dalam pakan memberikan respon yang baik terhadap produksi ayam ras petelur (Kompiang, 1984). Tepung daging keong mas dapat digunakan sebanyak 4 % dalam pakan ayam ras pedaging.
Aplikasi dari bahan pakan  lokal alternatif sebagai sumber protein hewani, dapat digunakan untuk mensubstitusi tepung ikan dalam formulasi pakan.

Bahan Pakan Sumber Energi

Sampai saat ini bahan baku pakan yang digunakan sebagai sumber energi  antara lain adalah  jagung dan dedak padi yang ketersediaan dan harganya masih berfluktuasi. Penggunaan tepung sagu (Metroxylon Sp.) hingga 20 % dalam pakan  ayam kampung periode pertumbuhan, menghasilkan nilai konversi pakan yang rendah yaitu 3,1 (Nataamijaya et al.,1988). Pemberian ampas sagu non fermentasi 10% dibandingkan dengan ampas sagu fermentasi 25% dalam pakan ayam kampung, memberikan respon yang baik terhadap pertumbuhan dengan memperbaiki nilai konversi pakan  dari 3,3 menjadi 3,1  (5,2%). Pemberian tepung ubi kayu sebanyak  50% yang ditambah dengan 0,3 % sodium tiosulfat dalam pakan ayam pedaging dapat memperbaiki konversi pakan dari 2,3 menjadi 1,9 (13,2%).

Bahan pakan sumber energi lain yang biasa digunakan untuk pakan adalah minyak goreng. Pemberian minyak dapat meningkatkan palatabilitas, daya cerna dan efisiensi penggunaan pakan. Namun penggunaan minyak goreng masih bersaing dengan kebutuhan konsumsi manusia, sehingga harganya relatif mahal. Untuk mengantisipasi hal ini, maka telah diupayakan untuk  mendapatkan minyak alternatif . Penambahan  3 % minyak kelapa dan minyak kacang tanah dalam pakan ayam ras pedaging ,nilai konversi pakannya 2,3.  Minyak biji saga pohon yang ditambahkan sebanyak 7,5 % dalam pakan ayam ras pedaging dapat memperbaiki nilai konversi pakan dari 2,3 menjadi 2,1 (8,6%). Pemanfaatan bahan pakan sumber energi alternatif dapat mengurangi penggunaan bahan pakan yang bersaing dengan kebutuhan konsumsi manusia.
Sumber: Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor Riset : Prof. Dr. Ir. Heti Resnawati, MS

1 komentar: