Minggu, Juni 14, 2015

Deteksi Brucella abortus pada Semen dengan Molekular PCR



Penyimpanan semen beku mempunyai keuntungan untuk penyimpanan semen dalam waktu lama namun memiliki kelemahan dapat menjadi sarana penyebaran beberapa mikroba patogen.

Salah satu agen yang dapat ditularkan melalui semen adalah Brucella abortus yang dapat mengakibatkan orchitis, visiculitis dan epididymitis pada hewan jantan. Brucellosis pada sapi umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas sehingga dapat bertindak sebagai hewan carrier.
Infeksi Brucella melalui inseminasi buatan (IB) dengan semen yang terkontaminasi lebih sering terjadi dibandingkan melalui perkawinan alam. Oleh karena itu perlu dikembangkan teknik PCR untuk deteksi keberadaan kuman Brucella pada sampel semen. Pengembangan teknik PCR ini digunakan primer dari gen 16sRNA dan OMP Brucella. Sampel semen sapi yang diuji adalah semen segar dan semen beku.
Hasil elektroforesis gel uji PCR dengan menggunakan berbagai pasangan primer ditampilkan pada gambar di bawah ini. Gambar pertama menunjukkan hasil uji sampel semen segar yang di spike B. abortus dengan primer Bruc (A) untuk genus Brucella sp dan Bruc6 (B) untuk B. abortus.
Pada gambar kedua menunjukkan hasil uji PCR sampel semen segar yang di spike B. abortus dengan primer OMP (A) dan primer 16sRNA (B). Gambar ketiga menunjukkan hasil uji PCR sampel semen beku yang spike B. abortus dengan primer OMP (A) dan primer 16sRNA (B).
Teknik PCR yang telah dioptimasi selanjutnya digunakan untuk deteksi Brucella pada sampel semen segar dan semen beku yang diambil dari lapang. Hasil uji PCR terhadap 29 sampel lapang telah terdeteksi 5 sampel yang positif, sedangkan dari hasil kultur semen sapi tidak terdeteksi adanya kuman Brucella. Hal ini dapat terjadi karena walaupun biakan kuman merupakan diagnosis standar baku untuk Brucellosis namun ada beberapa kelemahan yaitu sensitifitasnya.
rendah sehingga sering terjadi negative palsu dan memerlukan waktu lama serta keahlian seseorang dalam mengidentifikasi. Sensitifitas diagnosis melalui biakan kuman sangat dipengaruhi oleh konsentrasi jumlah kuman yang shedding dalam susu maupun semen sapi karena B.abortus merupakan bakteri fastidious yang sulit tumbuh dan lambat pertumbuhannya.
Dari hasil yang telah diperoleh tersebut dapat disimpulkan bahwa teknik PCR dapat mendeteksi adanya Brucella pada semen segar dan semen beku sapi dengan limit deteksi 1pg/ul.

Puslitbangnak

0 komentar:

Posting Komentar