Senin, Juni 08, 2015

Teknologi Budidaya Rumput Gajah Kerdil di Provinsi Sumatera Utara

Rumput gajah kerdil (Pennisetum purpureum cv Mott) merupakan salah satu tanaman yang dikenal cocok untuk pakan ternak ruminansia besar maupun kecil. Hal ini dikarenakan rasio daun atau batang yang tinggi, nilai nutrisi yang sedang, tahan terhadap kekeringan, dan cocok untuk penggembalaan. Berdasarkan beberapa keunggulan tersebut, pengembangan budidaya rumput gajah kerdil diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk menjamin ketersediaan hijauan.
Penelitian dilakukan dengan pendekatan agronomis melalui penanaman rumput gajah kerdil di dua agroekosistem berbeda (dataran rendah beriklim basah yaitu Sei Putih dan dataran tinggi beriklim sedang yaitu Siborong-borong). Luas masing-masing lokasi penanaman adalah 1.500 m2. Terdapat 30 petak percobaan dengan luasan 100 m2 tiap petak.  Ada tiga perlakuan jarak tanam, yakni 50x100 cm (JT1); 75x100 cm (JT2) dan 100x100 cm (JT3).
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rumput gajah kerdil di Sei Putih relatif lebih pendek dengan daun lebih lebar dan jumlah anakan yang lebih sedikit dibandingkan rumput gajah kerdil yang ditanam di Siborong-borong, Tapanuli Utara. Produksi segar tajuk rumput gajah kerdil yang ditanam di Sei Putih pada pemanenan akhir bulan Oktober 2013 adalah 2,2-3,2 kg/tanaman/panen. Jumlah ini jauh lebih tinggi daripada pemanenan akhir di Siborong-borong, yaitu 1,1-1,6 kg/tanaman/panen. Jarak tanam mempengaruhi produksi segar per tanaman per panen. Produksi segar per tanaman pada JT1 lebih rendah dibandingkan dengan dua perlakuan lainnya (JT2 dan JT3). Namun, dengan jarak tanam yang lebih rapat, jumlah tanaman pada perlakuan JT1 lebih banyak dibandingkan dengan JT2 dan JT3, sehingga ketika dikonversi ke produksi per plot maupun per hektar, produksi segar tajuk pada JT1 lebih tinggi dibanding JT2 dan JT3. Hasil analisis kimiawi menunjukkan nilai nutrisi rumput gajah kerdil (RGK) yang ditanam di Siborong-borong lebih baik dibandingkan yang di Sei Putih. Kandungan protein kasar RGK di Siborong-borong (17-19%) lebih tinggi dibanding RGK di Sei Putih (11-14%). Hal ini disebabkan RGK di Siborong-borong mengalami gangguan pada awal pertumbuhan dan relatif lebih muda dibanding RGK Sei Putih saat analisis dilakukan.

Puslitbangnak

0 komentar:

Posting Komentar